Tengok.id – Perayaan Hari Raya Idul Adha 1439 H yang jatuh pada 22 Agustus 2018 akan terasa berbeda bagi belasan bahkan puluhan ribuan warga kaum muslim yang tinggal di enam kelurahan di kawasan Pulomas, Jakarta Timur. Mereka kini tak lagi bisa memotong hewan qurban di masjid-masjid, sebagaimana selama puluhan tahun ini dilaksanakan.

Lewat Instruksi Gubernur (Ingub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 123 Tahun 2017 tertanggal 23 Juli 2017, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melarang pemotongan dan penampungan hewan qurban saat pergelaran Asian Games 2018 pada area dengan radius 1 kilometer dari Pacuan Kuda (Jakarta Equestrian Park) Pulomas.

Dalam Ingub itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan, pelarangan bertujuan menjaga kuda-kuda yang hendak berlaga di Asian Games. Pasalnya, hewan ini tergolong sensitif dan rentan terhadap virus antraks.

“Karena di sana ada equestrian yang kuda-kudanya memiliki sensitivitas dan aturan tentang binatang yang berada di sekitar sana sangat ketat,” kata Anies.

Ia meminta masyarakat sekitar kawasan Pulomas terutama umat muslim bisa memaklumi keputusan ini. “Kami berharap masyarakat memahami karena ini bukan sesuatu yang terjadi tiap tahun. Ini 56 tahun yang lalu. Ada kejadian. Dan di seluruh dunia aturannya sama. Mari kita tunjukkan bahwa Indonesia bisa menjadi tuan rumah yang baik,” tutur Anies.

Ihwal larangan pemotongan hewan qurban itu, dibenarkan Ade Ahadiyat Priyadi, Lurah Kayu Putih, Jakarta Timur. Pihak kelurahan, katanya, sudah mengeluarkan surat edaran mengenai pelarangan tersebut kepada Ketua RW, LMK, Ketua RT, pengurus masjid, sekolah-sekolah, pimpinan perusahaan, dan seluruh warga di Kelurahan Kayu Putih.

“Tidak melakukan penampungan, penjualan dan pemotongan hewan qurban dalam radius 1 (satu) kilometer dari kawasan Jakarta Equestrian Park Pulomas. Serta menjaga status Equine Disease Free Zone atau perlindungan terhadap kuda peserta Equestrian dari berbagai penyakit hewan,” kata Ade Ahadiyat Priyadi, membacakan Ingub DKI Jakarta No 123 Tahun 2017 yang ditandatangani Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Jakarta pada 23 Juli 2018.

Ada 35 masjid di enam kelurahan yang terkena larangan pemotongan hewan qurban tersebut. Yaitu masjid-masjid di Kelurahan Kayu Putih, Kelurahan Pulogadung, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelurahan Kelapa Gading Timur, Kelurahan Rawamangun, Kelurahan Jati, dan Kelurahan Pegangsaan Dua.

Lantas, bagaimana reaksi warga setempat?

Keberatan
Sejumlah pengurus masjid dan warga yang ditemui Tengok.id mengatakan keberatannya atas pelarangan pemotongan hewan qurban, persis di Hari Raya Idul Adha 1439 H pada 22 Agustus 2018 tersebut. Meski demikian, warga mengaku tak bisa berbuat banyak dan bersikap pasrah atas pelarangan tersebut demi menyukseskan gelaran Asian Games 2018.

Keberatan itu, misalnya, disampaikan Abidin (42), pengurus masjid Al-Hilal. Masjid Al-Hilal yang terletak di Jl Balap Sepeda, Rawamangun, Jakarta Timur, termasuk satu dari 35 masjid yang dilarang mengadakan pemotongan hewan di Hari Raya Idul Adha tanggal 22 Agustus 2018 oleh Pemprov DKI Jakarta terkait Asian Games.

“Setahu saya masjid ini sudah bertahun-tahun menggelar pemotongan hewan qurban. Sehingga menurut pandangan saya akan sangat janggal apabila tahun ini Masjid Al-Hilal tidak melaksanakan penyembelihan hewan qurban saat Hari Raya Idul Adha 22 Agustus 2018,” kata Abidin saat ditemui Tengok.id di Masjid Al-Hilal, Kamis (2/8/2018) silam.

Keberatan juga disampaikan Sis Handoko dan Jamaludin, pengurus dan Imam di Masjid Jami Baabut At-Taubah. Masjid Jami Baabut At-Taubah yang berlokasi di Jl Pulomas Barat, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur berjarak sekitar 500 meter dari Pacuan Kuda (Jakarta Equestrian Park) Pulomas.

“Sebenarnya ya berat menerimanya, tapi ya maklum saja, belum tentu setahun sekali,” kata Sis Handoko, pengurus Masjid Baabut At-Taubah.

Baca: Doping Bayangi E-Sports di Asian Games 2018

Padahal, kata Sis Handoko, setiap tahunnya Masjid Jami Baabut At-Taubah selalu menyembelih sekitar 80 ekor kambing dan 10 ekor sapi saat Idul Adha. “Kami sebar 1.500 kupon, kalau ada lebih, warga yang belum kebagian boleh mengambil tanpa kupon,” katanya.

Jamaludin, Imam di Masjid Jami Baabut At-Taubah juga menyampaikan keberatan. Jamaludin berdalih, memotong hewan qurban saat Idul Adha merupakan bagian dari syiar.

“Sebenarnya keberatan, karena setiap Idul Adha masyarakat mengadakan pemotongan hewan qurban. Ini kan bagian dari syiar,” kata Jamaludin.

Soal syiar juga dibenarkan Abidin, pengurus masjid Al-Hilal. “Pemotongan hewan qurban di Hari Raya Idul Adha merupakan bagian dari syiar,” kata Abidin.

Nawawi, pengurus Masjid Jami Al-Ilyas yang terletak di Jalan Pulo Nangka Barat atau persis bersebelahan dengan arena Pacuan Kuda Pulomas juga menyatakan keberatan. Tapi Nawawi mengaku pasrah.

Pasalnya, kata Nawawi, larangan pemotongan hewan qurban di Hari Raya Idul Adha itu hanya tahun ini saja. Itu pun untuk menyukseskan penyelenggaraan Asian Games, yang tidak setiap tahun diselenggarakan di Jakarta.

Menurut Nawawi, setiap tahunnya, Masjid Jami Al-Ilyas selalu mengadakan pemotongan hewan qurban setiap Idul Adha. Jumlahnya mencapai puluhan ekor kambing dan beberapa ekor sapi.

“Namun untuk tahun ini ia meminta warga untuk maklum. Ya kalau cuma tahun ini, ga apa-apa lah,” kata Nawawi pasrah.

Keberatan tak hanya disampaikan para pengurus masjid dan imam. Tetapi juga para warga.

“Sebenarnya saya nggak setuju, wong Idul Adha itu merupakan agenda tahunan umat muslim. Tapi agar Asian Games 2018 berjalan lancar, ya kita bisa apa, supaya Indonesia juga tidak jelek di mata negara lain,” kata Junaedi (62) bijak kepada Tengok.id, Sabtu (5/8/2018).

Jika Junaedi menanggapinya secara bijak, lain halnya dengan Aini. Wanita pedagang sayur ini mencak-mencak saat dimintai pendapatnya soal larangan pemotongan hewan di majid di hari Raya Idul Adha 22 Agustus 2018.

Pasalnya, Masjid Nurul Huda yang terletak di dekat tempat tinggal Aini di Jl Batu Sulaiman, Kayu Putih, Jakarta Timur juga terkena larangan pemotongan hewan qurban. Padahal, kata Aini, Masjid Nurul Huda berjarak lebih dari 1 km dari Pacuan Kuda Pulomas.

“Di aturan itu kan jaraknya 1 km ya, nah setahu saya jarak mesjid Nurul Huda dengan Pacuan Kuda Pulomas itu lebih dari 1 km. Jauh kok, tetapi kenapa mesjid ini kena (larangan pemotongan hewan qurban) juga?” kata Aini dengan nada menggugat saat ditemui Tengok.id di dekat Masjid Nurul Huda, Sabtu (5/8/2018).

Aini berpendapat, Asian Games 2018 seharusnya tidak menjadi alasan pelarangan pemotongan hewan qurban di sejumlah masjid di sekitar Pacuan Kuda Pulomas.

“Beberapa waktu lalu ada aturan mengenai pelarangan pemotongan hewan qurban di sekolah, kami sebagai umat muslim sudah kecewa. Eh lha ini di masjid kok malah nggak boleh juga. Menurut saya Asian Games nggak boleh jadi alasan untuk dilarangnya kami untuk menyembelih hewan qurban,” Aini menambahkan.***

Editor: Hasanuddin

Bagaimana menurut pembaca?