Mukjizat Rio de Janeiro

Dibalik prestasi puncaknya di Paralympic Rio de Janeiro, ada sebuah kisah unik yang dialami Widi. Ketika namanya disertakan dalam Paralympic Rio de Janeiro, Widi memiliki motivasi kuat untuk membawa pulang medali ke Tanah Air.

“Saat itu motivasi saya sebelum tampil, ingin membawa pulang medali, dan itu saya buktikan di sana,” ujarnya.

Persiapan menghadapi Olimpiade Difabel 2016 di Rio de Janeiro Brasil, Widi lakukan dengan kerja keras agar bisa lolos. Namun, ia sempat mengalami cedera saat mengikuti latihan berat.

“Sebelum ke Brasil saya latihan super gila, Senin-Sabtu, dari pagi hingga sore. Pelatih sampai bilang kamu harus istirahat, kamu akan sakit kalau begini. Tapi saya bilang saya akan sakit kalau saya gagal fit untuk berangkat ke Brasil,” ujarnya kala itu.

Ni Nengah Widiasih
Ni Nengah Widiasih

Ternyata benar apa yang dikatakan pelatih. Widi mengalami cidera parah pada bagian bahu kanan dan otot leher, tulang agak kegeser.

“Tapi mujizat Tuhan terjadi. Dua hari jelang laga, semua rasa sakit saya hilang. Saat start pertama saya cuma ada harapan di nomor 4-5 dunia, tapi saya yakin ada keajaiban dari Tuhan, apa pun yang terjadi saya bisa pulang bawa medali tersebut.”
Dan, Widi menjadi satu-satunya dari sembilan atlet difabel Indonesia yang dikirimkan ke Paralympic Rio de Janeiro, Brasil tahun 2016.

Optimis Sumbang Medali Emas

Saat ditanya peluangnya di ajang Asian Para Games 3 tahun 2018 di Jakarta, Widi optimis mempersembahkan medali bagi kontingen angkat berat Indonesia.

Baca: Bidik 7 Besar, Ayo…Kalian Bisa!

“Peluangnya 50:50 untuk merebut medali emas di Asian Para Games 3 di Jakarta. Tapi saya optimis bisa,” sambungnya.

Widi menyebut Chui Zhe, atlet difabel angkat berat asal China, sebagai lawan terberatnya di Asian Para Games 3. Chui Zhe, kata Widi, merupakan peraih medali perak di Paralympic Rio de Janiero, Brasil.

“Dia lawan terberat saya, tapi kami sering bertemu di berbagai ajang kejuaraan tingkat dunia,” kata wanita pemilik rambut panjang ini.

Saat ini, Widi tengah fokus menurunkan berat badannya, karena ia akan bertanding di kelas 41 kg. “Sekarang ini saya tengah menjalani diet ketat agar berat badan berada pada posisi ideal, yaitu 41 Kg. Saya harus menurunkan berat badan sekitar 2,5 kg lagi dalam beberapa pekan ini,” kata Widi.

Ketika dimintai tanggapannya soal difabel, Widi menjelaskan bahwa ia memang memiliki perbedaan dengan orang pada umumnya. Tetapi hal itu tidak membuatnya minder atau merasa terkucil.

Widi menjawabnya dengan sebuah prestasi yang selama ini ditorehkannya. “Saya menjawab keraguan semua orang dengan prestasi. Dukungan keluarga dan orang-orang sekitar yang saya cintai menjadi pemicu semangat tersendiri,” pungkas Widi.

Ni Nengah Widiasih adalah contoh nyata bahwa penyandang disabilitas juga bisa menorehkan prestasi, yang belum tentu bisa dicapai non-difabel. Jadi, tak perlu menjadi sosok sempurna untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia internasional.***

 

Editor : Hasanuddin

Bagaimana menurut pembaca?