Ikuti Jejak Sang Kakak

Ketika duduk di kelas 6 SD atau saat usianya sekitar 14 tahun, Widi ikut kakaknya, I Gede Suantaka, yang akan latihan angkat berat. Sang kakak adalah seorang atlet angkat berat asal Bali.

Tiba di tempat latihan sang kakak, Widi mulai mencoba ikut latihan angkat-angkat beban. Ia pun diberi kesempatan untuk ikut bergabung dan tak dilarang untuk angkat-angkat beban. Mulanya hanya coba-coba hingga kemudian Widi bertemu Ketut Mija, pelatih yang telah mengantarkan dirinya menjadi seorang atlet angkat berat papan atas dunia.

“Awalnya sih cuma main-main, coba-coba, ikut-ikutan. Kebetulan kakak lingkungan saya pada saat itu atlet angkat berat. Seorang pelatih pun mengajak saya ikut latihan. Meski tampak berbeda, sebab hanya saya yang difabel, dia berupaya terus melatih saya,” kisah Widi soal perkenalannya dengan olahraga angkat berat.

Widi sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah angkat berat merupakan jalan hidupnya. Namun berkat dukungan penuh dari sang pelatih, Widi mulai memantapkan hatinya untuk terus latihan angkat berat dan menjadi seorang atlet.

Baru tiga bulan mengikuti latihan, Widi didaftarkan mengikuti Kejurnas Angkat Berat di Bali. Secara mengejutkan Widi tampil sebagai juara dengan meraih medali emas.

Itulah medali emas pertama yang diraih Widi ketika masih duduk di bangku kelas 6 SD. Hasil itu semakin memantapkan langkah Widi untuk menekuni olahraga angkat berat.

“Padahal waktu itu saya belum paham soal angkat berat. Saat ditanya orang lain, Kamu main di kelas berapa?” Saya jawab, Kelas 6,” kenang Widi sambil tertawa.

Baca: Bidik 7 Besar, Ayo…Kalian Bisa!

Hasil itu pula yang membuat Widi dipanggil untuk bergabung dengan Pelatnas angkat berat difabel di Solo, Jawa Tengah.

Dua tahun kemudian, Widi diikutsertakan dalam ASEAN Para Games ke-4 tahun 2007 di Nakhon Ratchasima, Thailand. Ini lah kejuaraan internasional yang pertama kali diikuti Widi dan tak mengecewakan.

Di ajang kompetisi olahraga difabel se-Asia Tenggara tersebut, Widi menyabet medali perunggu. Dua tahun berikutnya, di ajang ASEAN Para Games ke-5 tahun 2009 di Kualalumpur, Malaysia, Widi menyabet medali perak.

Sejak itu, Widi terus menorehkan prestasi gemilang sebagai atlet difabel angkat berat Indonesia yang banyak menyabet medali di berbagai kompetisi olahraga difabel internasional.

Ni Nengah Widiasih
Atlet angkat beban Ni Nengah Widiasih

Di tingkat Asia, Widi menyabet medali perak ketika berlaga di Asian Para Games 2 tahun 2014 di Incheon, Korea Selatan. Puncak prestasinya, ketika Widi meraih medali perunggu di Paralympic (Olimpiade Difabel) di Rio de Janeiro, Brasil, tahun 2016. Capaian itu menempatkan Ni Nengah Widiasih sebagai atlet difabel angkat berat papan atas dunia.

Di tingkat nasional, Widi yang selalu turun di kelas 40 kg, mendulang medali emas di berbagai kompetisi olahraga difabel tingkat nasional.

Mukjizat Rio de Janeiro

Dibalik prestasi puncaknya di Paralympic Rio de Janeiro, ada sebuah kisah unik yang dialami Widi. Ketika namanya disertakan dalam Paralympic Rio de Janeiro, Widi memiliki motivasi kuat untuk membawa pulang medali ke Tanah Air.

Bagaimana menurut pembaca?