Tengok.id – Menjalani hidup sebagai penyandang disabilitas memang tidak mudah. Semua hal menjadi serba terbatas, seiring dengan keterbatasan yang dimilikinya baik fisik, fungsional, mental, maupun motorik/sensorik.

Keterbatasan sering membuat penyandang disabilitas dilanda rasa putus asa dan depresi. Sebab hidup dan kehidupannya seakan sudah tak berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Hal ini sempat dialami Ni Nengah Widiasih, atlet difabel angkat berat (powerlifting) papan atas dunia asal Karangasem, Bali. Kepada Tengok.id yang menemuinya dalam suatu acara di Jakarta, Selasa (18/9/2018), wanita berusia 27 tahun yang akrab disapa Widi itu menuturkan kisah hidupnya dan target yang hendak diraihnya di gelaran Asian Para Games 3 tahun 2018 di Jakarta, 6 – 13 Oktober 2018.

Widi terlahir normal, ketika pertama kali menyapa dunia pada 12 Desember 1989 di Karangasem, Bali. Namun Widi kecil tiba-tiba saja mengalami demam tinggi disertai kejang-kejang.

“Melihat kondisi seperti itu, ibu membawa saya ke dokter untuk segera ditangani. Bukannya membaik, suhu badan malah melonjak,” kisah Widi di acara peluncuran Citibank dengan Asian Para Games 2018, di Citibank Tower, Selasa (18/9/2018) silam.

Tak lama setelah mengalami demam tinggi disertai kejang-kejang, Widi kecil mulai merasakan kedua kakinya lemas total dan sulit digerakkan. “Saya sempat merasakan lemas total di bagian kaki sehingga sulit untuk digerakkan,” ujarnya.

Kedua orangtuanya sudah melakukan segala daya upaya bagi kesembuhan Widi kecil dengan membawanya berobat ke rumah sakit. Bahkan hingga pengobatan alternatif. Tapi tak kunjung sembuh.

“Kedua orangtua sudah berjuang keras demi kesembuhan saya agar bisa kembali normal. Tapi Tuhan berkata lain, kaki saya lumpuh,” kata Widi.

Baca: Bidik 7 Besar, Ayo…Kalian Bisa!

Pada usia 4 tahun, Widi kecil mulai menggunakan kursi roda (wheel chair) guna menggantikan kedua kakinya yang sudah tidak berfungsi dengan baik. Mulanya ia tak merasakan ada yang aneh pada dirinya, mengingat saat itu usia Widi masih balita (bawah lima tahun).

Widi mulai merasakan dan menyadari bahwa dirinya berbeda dengan orang lain ketika memasuki bangku sekolah. Ketika itu, ia melihat teman-temannya berlarian di sekolah saat jam istirahat. Sedangkan Widi hanya duduk terdiam di dalam kelas dengan kursi rodanya.
“Waktu itu, saya baru menyadari ada yang berbeda ketika sekolah,” ujarnya.

Sejak itu, Widi sering menangis setiap pulang sekolah. Hal itu membuat sang ayah kebingungan.

bio Ni Nengah Widiasih
Biodata atlet Ni Nengah Widiasih

“Bapak sempat bertanya, kamu kenapa nak? Kenapa kamu menangis?,” kata Widi mengisahkan kembali saat-saat pertama kali menyadari bahwa dirinya ‘berbeda’ dengan orang lain.

“Saya sempat bertanya kepada Bapak, kenapa saya tak bisa lari? Bapak bilang, Kamu nggak ngerti dengan kondisi sekarang ini, tapi dengan bertumbuh dewasa, kamu akan mengerti dengan sendirinya,” kata Widi menirukan kembali ucapan sang Ayah kepada dirinya beberapa tahun silam.

Meski begitu, Widi merasa beruntung. Sebab ia tumbuh dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang sangat mencintai dirinya dan tak pernah sekalipun mempersoalkan ‘perbedaan’ yang dirasakan Widi.

Pihak keluarga bahkan tiada henti memberikan motivasi dan mendukung Widi untuk terus beraktivitas dan bertemu dengan orang-orang.

Ikuti Jejak Sang Kakak

Ketika duduk di kelas 6 SD atau saat usianya sekitar 14 tahun, Widi ikut kakaknya, I Gede Suantaka, yang akan latihan angkat berat. Sang kakak adalah seorang atlet angkat berat asal Bali.

Bagaimana menurut pembaca?