Tengok.id – Goal ball terbilang cabang olahraga (cabor) baru bagi Indonesia. Meski permainan olahraga ini sudah berusia 72 tahun, sejak pertama kali diperkenalkan di Austria oleh Hanz Lorenzen dan German Sepp Reindle, goal ball masih belum dikenal luas di Indonesia.

Tak ada data dan catatan resmi yang menjelaskan kapan goal ball masuk Indonesia. Kehadirannya ditandai dengan ikut berlaganya Timnas goal ball Indonesia di ajang Asean Para Games ke-6 pada tahun 2011 ketika kota Solo, Indonesia, menjadi tuan rumah.

Pelatih Timnas Goal Ball Indonesia Muhammad Nurus Syeikhi mengakui bahwa goal ball belum dikenal secara luas di Indonesia. “Tim Goal Ball Indonesia pertama kali berpartisipasi dalam Asean Para Games tahun 2011,” kata Nurus saat dihubungi Tengok.id melalui sambung telepon, Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Sementara bagi sejumlah negara di Asia Tenggara, goal ball justru menjadi salah satu permainan olahraga kaum difabel yang cukup terkenal. Itu sebab, setelah lima kali dipertandingkan di ajang Asean Para Games, Indonesia baru berpartisipasi di gelaran ke-6 tahun 2011 ketika kota Solo menjadi tuan rumah.

Nurus menyebut Thailand sebagai raksasa goal ball di Asia Tenggara, yang sering menjuarai cabor goal ball di Asean Para Games. Tim kuat lainnya adalah Malaysia dan Singapura.

Secara prestasi, katanya, tim goal ball Indonesia di ajang Asean Para Games selalu berada di peringkat tiga (perunggu).

Karena itu, tim Goal Ball Indonesia tak muluk-muluk di ajang Asian Para Games ke-3 tahun 2018 di Jakarta. Timnas Goal Ball Indonesia asuhan Nurus belum bisa menargetkan medali apapun di Asian Para Games 2018.

“Saya dengan tim pelatih lain, berusaha semaksimal mungkin supaya tahun ini mendapat hasil terbaik. Kami belum bisa menargetkan medali apapun kepada negara,” kata Nurus.

Soal persiapan, Nurus mengaku bahwa saat ini persiapan tim sudah mencapai pra kompetisi. Seluruh pemain sudah mendalami materi yang sudah dilatih selama ini.

“Saat ini para pemain tinggal mematangkan pola penyerangan dan bagaimana mengantisipasi bola pantul dari lawan,” ucapnya.

Baca: Goal Ball, Pemain Andalkan Pendengaran

Kendati lawan-lawan yang akan dihadapi begitu berat, Nurus menjelaskan bahwa sejak awal Agustus lalu, tim sudah menjalani try out di Malaysia, ketika di negeri jiran tersebut digelar kejuaraan goal ball.

“Jadi kami mengikuti kejuaraan internal mereka (Malaysia). Selain tuan rumah Malaysia, negara yang ikut adalah Singapura dan Indonesia. Ada enam tim Malaysia putra, satu tin Singapura, dan satu tim Indonesia. Jadi ada 8 tim saja,” kata Nurus.

Diakuinya, hasil try out di Malaysia itu masih banyak evaluasi. Terutama dalam mengantisipasi bola pantul, transisi serangan, dan bertahan.

“Tapi masih bisa kita ditangani para pemain dengan baik dan seluruh pemain siap bertanding di Asian Para Games ini,” Nurus menambahkan.

Berikut Timnas Goal Ball Indonesia di Asian Para Games ke-3 tahun 2018 di Jakarta:

Tim Goal Ball PUTRA Indonesia:
Arif setiawan – 30th
Bahrul Sapaat – 22th
Dede Sopian – 28th
Dhedy Stiawan – 29th
Ferudin – 23th
Satrio Choirul Usman – 22th

Tim Goal Ball Putri Indonesia:
Anes – 22th
Een Febrian – 37th
Fitri Mulya Sari – 22th
Ni Gusti Ayu – 30th
Nita Sulastri – 26th

Goal ball merupakan permainan olahraga yang pertama kali dikenalkan oleh Hanz Lorenzen dan German Sepp Reindle di Austria pada tahun 1946. Permainan olahraga ini lahir di Austria guna membantu rehabilitasi para korban perang dunia II yang menderita tunanetra.

Tujuannya antara lain adalah melatih daya pendengaran ketika indera mata sudah tidak berfungsi dengan baik (tunanetra). Tahun 1976, goal ball resmi masuk dalam cabor yang dipertandingkan dalam Olimpiade Paralympic.***

Editor : Hasanuddin

Bagaimana menurut pembaca?