Tengok.id – Bagi Anda yang kini berusia 40 – 50 tahun atau mengalami masa remaja di pertengahan 1980-an hingga awal tahun 1990-an, tentu tak asing dengan sosok Olga. Olga adalah sesosok remaja putri berparas cantik yang berstatus sebagai siswi SMA dan berprofesi sebagai penyiar radio.

Sosok Olga menjadi istimewa lantaran kesehariannya tak pernah lepas dari sepatu roda. Kemana pun ia pergi, Olga selalu menggunakan sepatu roda.   Olga adalah tokoh rekaan Hilman Hariwijaya (penulis novel remaja “Lupus”) yang pertama kali muncul dalam cerpen berjudul Sepatu Roda yang dimuat di majalah remaja, Mode, di penghujung dekade tahun 1980.

Baca: Bonus Bergelimang, Para Atlet Harus Berprestasi

Hilman lalu menggarapnya menjadi novel serial berjudul Olga. Olga dan Sepatu Roda, adalah novel serial Olga yang pertama kali dipublikasikan pada 1990.  Pada 1991, novel remaja Olga dan Sepatu Roda karya Hilman Hariwijaya diangkat ke layar lebar.

Sosok Olga diperankan oleh Desi Ratnasari yang kala itu masih berusia muda. Dalam film bergenre remaja itu, aktris cantik asal Sukabumi, Jawa Barat ini dinilai berhasil memerankan tokoh Olga sehingga sosok Olga menjadi bagian tak terpisahkan dari Desi Ratnasari.

Sebagai penulis cerpen dan novel remaja, Hilman Hariwijaya tahu betul gaya hidup para remaja di perkotaan seperti Jakarta. Kala itu, sepatu roda tengah menjadi bagian hidup para remaja di perkotaan.

 

Lantai Disko

Sepatu roda tak hanya digunakan kaum remaja di jalanan, di sekolahan, di lingkungan perumahan, tetapi juga di diskotek. Di Jakarta ada Happy Day dan Lipstik, diskotek yang khusus dibuka bagi para penggila sepatu roda.

Dibanding Happy Day, Diskotek Lipstik yang dibuka awal September 1988 di kawasan niaga Blok M, Jakarta Selatan, terbilang fenomenal. Diskotek ini tak pernah sepi pengunjung. Di sini, para penggila sepatu roda bisa berjoget atau berdansa di lantai disko mengikuti alunan musik, sambil bermesraan.

Bersepatu roda di antara remang cahaya ruang diskotek, bermesraan bersama pasangan atau mencari pasangan di lantai disko, jadi kenangan remaja Jakarta di era penghujung tahun 1980-an hingga pertengahan tahun 1990-an.

Kehadiran Diskotek Lipstik dan Happy Day di Jakarta di pertengahan tahun 1980-an, merupakan efek dari demam Roller Disco di berbagai negara di dunia. Roller Disco adalah konsep gaya hidup kawula muda yang menggabungkan aktivitas bersepatu roda (roller) dengan musik disko.

Bermula di Amerika Serikat. Film Saturday Night Fever yang dirilis Hollywood pada 1978 dan dibintangi John Travolta, membuat muda-mudi Amerika dilanda disko ala goyangan disko John Travolta dalam film itu.

Dalam sekejap, tarian disko merambah jalanan dan taman-taman di kota-kota di Amerika. Sambil menjalankan aktivitas keseharian, mereka berjoget disko sambil mendengarkan musik disko yang berasal dari rekaman kaset pita yang diputar tape recorder yang dipasang di jalanan atau taman-taman kota dengan volume yang keras.

Para remaja dan kawula muda yang tengah bermain sepatu roda di jalanan atau di taman-taman kota, turut berjoget ria. Saat itu lah muncul istilah Roller Disco.

Popularitas Roller Disco makin meroket tatkala Hollywood merilis film Roller Boggir pada tahun 1979, sebagai lanjutan dari film Saturday Night Fever. Sejak itu, roller disco merambah ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, memasuki pertengahan tahun 1990-an, popularitas sepatu roda mulai meredup. Diskotek Lipstik di Blok M tutup pada sekitar tahun 1996 dan Diskotek Happy Day ludes terbakar pada 2005.

Seiiring meredupnya tren sepatu roda, satu per satu arena diskotek roller disco pun gulung tikar. Kini, tak ada satu pun yang tersisa.

 

Dipatenkan tahun 1760

Sepatu roda pertama kali dipatenkan di Belgia pada tahun 1760 oleh seorang penemu bernama John Joseph Merlin. Sepatu roda yang dibuat Joseph Merlin bentuknya tak jauh beda dengan ice skate, sebuah alas kaki yang bagian bawahnya dilengkapi dengan roda berbaris layaknya blade pada ice skate pada umumnya.

sepatu roda
sepatu roda

Bentuk sepatu roda yang pertama kali dibuat dan dipatenkan John Josep Merlin di Belgia tahun 1760 yang tak jauh beda dengan ice skate itu, saat ini dikenal dengan sepatu roda jenis roda inline.

Sayangnya, sepatu roda produksi Joseph Merlin itu sulit dikendalikan. Sebab sepatu roda ciptaan Joseph Merlin itu tidak dilengkapi dengan rem, sehingga tidak bisa berhenti atau diberhentikan ketika sedang bergerak.

Pada tahun 1863, James Plimpton membuat penemuan terbaru di bidang sepatu roda. Dia menemukan metode terbaru sepatu roda dengan empat roda yang disusun menyerupai letak roda pada mobil.

Keunggulan sepatu roda milik James adalah sepatu roda ini dilengkapi dengan sumbu yang bisa memudahkan seseorang mengendalikan gerakannya. Desainnya ini membuat sepatu roda dikenal ke seluruh penjuru Eropa. Desain sepatu roda milik Plimpton tersebut masih digunakan hingga sekarang ini, 155 tahun setelah penemuannya.

Memasuki abad 20, sepatu roda semakin luas digunakan masyarakat di seluruh dunia. Aneka perlombaan sepatu roda banyak digelar di berbagai negara di dunia. Pada tahun 1942, dibentuk organisasi sepatu roda internasional yang bernama Federation De Roller Skating. Sejak itu, banyak komunitas sepatu roda di dunia, menggelar kompetisi sepatu roda bertaraf internasional.

Sepatu roda diperkirakan masuk ke Indonesia di sekitar tahun 1950-an. Pada saat itu anak muda di Jakarta, Bandung, dan Surabaya mulai menggemari sepatu roda. Aneka perlombaan sepatu roda tampaknya juga banyak diselenggarakan di Indonesia kala itu. Pembuatan film layar lebar berjudul Djuara Sepatu Roda pada tahun 1958 garapan Wim Umboh, menjadi indikasi kuat akan banyaknya kompetisi sepatu roda di Indonesia di tahun 1950-an.

Di Indonesia, pada tahun 1979 dibentuklah Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (PERSOSI). Setelah terbentuknya PERSOSI, perkembangan sepatu roda di Indonesia sangat pesat dan menyeluruh di setiap kota-kota besar Indonesia.

Sayang, meski sudah ditemukan sejak tahun 1760 dan dilombakan dalam banyak kompetisi internasional sejak tahun 1940-an, toh kompetisi sepatu roda secara resmi belum menjadi bagian dari pesta olahraga multi-event terbesar di dunia, Olimpiade. Meski sempat dipertandingkan dalam gelaran Olimpiade Musim Panas tahun 2012 lalu.

Komite Olimpiade Dunia (International Olympic Committee/IOC) berencana memasukkan sepatu roda sebagai salah satu cabang olahraga yang resmi dipertandingkan di ajang Olimpiade, pada Olimpiade Tokyo tahun 2020 mendatang.

Atas dasar inilah, Komite Olimpiade Asia (Olympic Committee Asia/OCA) memasukkan Roller Sports dalam ajang Asian Games 18 tahun 2018 yang kini tengah digelar di Indonesia. Lalu, bagaimana peluang dan target Indonesia?

Pelatih timnas sepatu roda Indonesia Yedhi Helyadie, tak mau muluk-muluk. Dari cabor roller skate atau sepatu roda, pihaknya menargetkan satu medali emas. Satu medali emas itu diharapkan diraih atlet sepatu roda andalan Indonesia, Oky Andrianto.

“Ada satu yang kami jagokan di ajang Asian Games ini, kemarin terjadi kecelakaan, tetapi dari hari ke hari, latihan dia semakin bagus. Mudah-mudahan pada Asian Games, Oky Andrianto bisa menunjukkan performa terbaiknya sebagai atlet sepatu roda terbaik di Indonesia,” kata Yedhi di Bekasi, Kamis (9/8/2018) silam. 

Para atlet sepatu roda akan bertanding di nomor individual 20 kilometer putra dan putri. Mereka dijadwalkan tampil pada 31 Agustus 2018 di Arena Sepatu Roda di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan.***

Bagaimana menurut pembaca?