Jakarta, Tengokberita.com– Konflik adalah suatu hal yang sulit dihindari dalam kehidupan manusia. Konflik terjadi karena adanya keinginan atau kehendak yang berlawanan atau berbeda antara satu pihak dengan pihak yang lainnya, atau antara kelompok dan golongan yang satu dengan yang lainnya.

Webster (1966) dalam Dean G. Pruitt dan Feffrey Z. Rubin menyebutkan ‘conflict’ dalam bahasa aslinya berarti suatu “perkelahian, peperangan, atau perjuangan” yaitu berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Kata itu kemudian berkembang menjadi :ketidaksepakatan yang tajam atau oposisi atas berbagai kepentingan”

Sedangkan menurut wikipedia, konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.

Inilah yang sekarang ini terjadi, dimana tokoh yang tergolong senior Amien Rais melontarkan kritik pedas terhadap pemerintahan Joko Widodo yang dinilai ‘ngibul’ terkait program pembagian sertifikat tanah.

Kritik keras tokoh reformasi dan politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais tersebut memancing kemarahan Menko Maritim Luhur Binsar Pandjaitan. Bahkan, mantan Dan Kodiklat TNI AD ini mengancam akan membuka ‘dosa-dosa’ Amien Rais, bila mantan Ketua Umum MPT terus ‘nyinyir’ terhadap pemerintahan Joko Widodo.

“Kalau kau merasa paling bersih kau boleh ngomong. Dosamu banyak juga kok. Sudahlah, diam sajalah. Jangan main-main, kalau main-main kita bisa cari dosamu, memang kamu siapa” ujar mantan Menko Polhukam tersebut.
Meski dia tidak menyebutkan nama siapa tokoh “Kau”, namun publik paham yang dimaksud Luhut adalah Amien Rais.

Luhut seperti kata Dean G. Pruitt dan Feffrey Z. Rubin memaknai ‘serangan’ Amien Rais sebagai persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest). Amien memposisika diri sebagai oposisi dan Luhut adalah sisi pemerintah. Kondisi semacam ini dapat terjadi pada berbagai macam keadaan dan pada berbagai tingkat kompleksitas.

Pada situasi yang rada ‘memanas’ ini muncul mantan presiden ke 6 yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Ketua Umum Partai Demokrat ini yang belakangan mulai dianggap dekat dengan Joko Widodo mencoba ‘menengahi’ perseteruan dua kubu tersebut. Bahkan, SBY mencoba mengingatkan kepada Amien Rais agar berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan kritik ke Pemerintah.
Dia meminta kepada Amien Rais untuk berhati-hati berbicara. Apalagi, saat ini sudah tidak muda lagi.

Kepada Pak Amien, sahabat saya. Kita sudah sama-sama tua, hati-hati berbicara,” kata SBY di Hotel Harper, Purwakarta.

SBY mengatakan bila Amien Rais memiliki data dan bukti yang relevan atas ucapannya, hendaknya diungkap ke publik. Biarkan publik yang menilai siapa yang benar. Kata SBY, jangan sampai kritik yang disampaikan secara kelewat batas. Bahkan cenderung ke arah fitnah. Menurut SBY kritik yang disampaikan haruslah proporsional.

Menurut Ross (1993), langkah SBY itu adalah sebuah manajemen konflik yakni langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik. Langkah SBY mungkin menghasilkan ketenangan dan mungkin juga sebaliknya. (rot)

Bagaimana menurut pembaca?