Tengok.id – Tai Cheau Xuen harus menanggung malu. Atlet Wushu asal Malaysia ini terpaksa harus menyerahkan medali emas yang diraihnya secara susah payah dalam gelaran Asian Games ke-17 di Incheon, Korea Selatan, tahun 2014, kepada panitia penyelenggara.

Medali emas itu kemudian jatuh ke tangan Juwita Niza Wazni, atlet wushu Indonesia yang sebelumnya meraih medali perak setelah kalah dari Tai Cheau Xuen dalam laga final. Tai Cheau Xuen terbukti doping setelah hasil tes urinenya mengandung sibutramine.

Tak hanya kehilangan medali emas, wanita berusia 23 tahun itu pun diganjar hukuman larangan tanding selama empat bulan oleh Badan Anti Doping Dunia (World Anti Dopping Agency/WADA). Kasus doping itu tak hanya membuat malu Tai Cheau Xuen, tapi juga telah membuat Malaysia kehilangan muka.

Wakil Ketua Federasi Wushu Malaysia, Chong Kim Fatt berkilah, Tai Cheau Xuen merupakan korban dari ketidaktahuannya akan obat-obatan yang mengandung zat kimia yang tergolong doping. Tai Cheau, kata Chong, sama sekali tidak mengetahuinya apabila obat pelangsing tubuh yang dikonsumsinya mengandung sibutramine, zat kimia yang bisa memberikan efek stimulan bagi pemakainya (doping).

Kasus itu, Chong melanjutkan, menjadi pelajaran berharga. “Biar bagaimanapun kami menyesal dengan kejadian yang tidak diinginkan ini. Kami pun meminta maaf kepada semua pihak atas ketidaknyamanan ini. Kami menerima keputusan ini dan semuanya akan menjadi pelajaran bagi kami untuk mendidik orang untuk menyadari obat-obatan dan zat terlarang,” kata Chong kala itu.

Kasus doping seperti yang dialami Tai Cheau Xuen, selalu terjadi di ajang kompetisi olahraga. Dan kasus ini berpotensi terjadi di gelaran Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang.

Ketua Umum Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) dr Zaini Khadafi Saragih mengakui bahwa potensi terjadinya kasus doping di Asian Games ke-18 selalu terbuka lebar. “Kalau berbicara potensi doping di Asian Games kali ini, pasti terbuka lebar. Di Asian Games sebelum-sebelumnya selalu ada kasus atlet yang terbukt doping,” kata Zaini Khadafi Saragih kepada Tengok.id di Jakarta, Kamis (2/8/2018).

Momok Menakutkan

Doping menjadi momok menakutkan bagi atlet. Sebab doping bisa membuat malu si atlet. Bahkan bisa menghancurkan karier dan prestasi si atlet. Persoalannya, para atlet tak memiliki pengetahuan yang cukup soal doping. Sebagaimana dialami Tai Cheau Xuen, ia tak mengetahui jika produk pelangsing tubuh yang digunakannya mengandung zat yang dikategorikan sebagai doping.

Tak hanya si atlet, pelatih, ofisial, federasi, bahkan negara pun ikut menanggung malu begitu salah seorang atletnya dinyatakan positif doping. Karena itu, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi terus mengimbau dan mengingatkan kepada para atlet dan pelatih mengenai larangan doping yang mesti dipatuhi dan diwaspadai.

Baca: Icuk Sugiarto Meradang: PBSI Tak Adil!

“Semua ini peringatan bagi semua pelatih dan atlet, di mana konsumsi obat yang dimiliki, betul-betul harus steril dari doping. Itu paling penting. Pengetahuan tentang doping ini harus diketahui oleh semua cabang olahraga,” kata Imam.

Menurut Imam, suplemen dan obat-obatan yang dikonsumsi para atlet, terutama para atlet Indonesia, harus diperiksa kandungannya, apakah mengandung unsur-unsur doping atau tidak. Menpora berkeinginan, gelaran Asian Games ke-18 bisa steril dari doping.

Ketum LADI sendiri mengakui bukan hal mudah memeriksa seorang atlet, apakah ia positif doping atau tidak. Harus ada tes laboratorium yang akan menguji secara medis.

Terkait doping di gelaran Asian Games ke-18, LADI sudah setahun terakhir melakukan imbauan-imbauan dan kampanye soal doping kepada seluruh atlet Indonesia di semua cabang olahraga (cabor).

“Kami sudah bekerja untuk multievent ini selama setahun belakangan. Karena bukan hal yang mudah untuk memeriksa atlet ini positif doping atau tidak. Tetapi saya bisa menjamin atlet Indonesia yang akan turun di Asian Games nanti bersih dari doping,” kata dokter yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan ini.

Menurut Ketum LADI Zaini Khadafi Saragih, dalam upaya mewujudkan Asian Games ke-18 steril dari doping, Menpora Imam Nahrawi meminta LADI menjadi bagian dari penyelenggaraan Asian Games ke-18.

Sayang, keinginan Menpora itu tidak bisa dipenuhi sebab LADI dan Asian Games memiliki induk berbeda. LADI, kata Zaini, berada di bawah naungan WADA sedangkan Asian Games berada di bawah naungan Komite Olimpiade Asia (Olympic Council of Asia/OCA).

Meski begitu, ia memastikan hingga saat ini atlet-atlet Indonesia masih aman dari doping. Ia merujuk pada random sampling yang dilakukan beberapa bulan lalu. “Untuk atlet Indonesia, hasilnya bagus, tidak ada yang terindikasi doping. Tapi kita masih periksa sampai athlete village dibuka, kita terus periksa dan pantau atlet kita [Indonesia],” kata Zaini.

Zani mengimbau kepada para atlet Indonesia, jika terkena flu, jangan langsung membeli obat sendiri di apotek. “Melainkan ia harus bertanya atau konsultasi kepada tim dokter atau tim medis cabor agar diberikan obat yang cocok untuk dirinya sehingga tidak terkena obat yang mengandung doping,” jelas dokter spesialis olahraga ini.***

Editor: Hasanuddin

Bagaimana menurut pembaca?