Tengok.id – Kekisruhan membayangi pelaksanaan pemotongan hewan qurban di Hari Raya Idul Adha 1439 H pada 22 Agustus 2018 di Jakarta Timur. Ada sejumlah kendala menghadang, dan hingga berita ini diturunkan, belum dicarikan solusinya.

Antara lain, Rumah Potong Hewan (RPH) Cakung milik UD Dharma Jaya yang ditunjuk Pemprov DKI Jakarta sebagai lokasi pemotongan bagi hewan qurban yang berasal dari 35 masjid yang dilarang memotong hewan qurban terkait gelaran Asian Games ke-18, ternyata memiliki kemampuan potong yang terbatas.

Dalam sehari, sebagaimana diungkapkan salah seorang pekerja, RPH Cakung hanya mampu memotong 70 ekor sapi. Itu pun sapi yang dilakukan dengan pemotongan biasa, bukan dipotong untuk kepentingan qurban.

Sebab, sebagaimana dijelaskan seorang pekerja RPH Cakung bernama Marsudin, pemotongan sapi untuk kepentingan qurban berbeda dengan pemotongan sapi yang selama ini dilakukan setiap hari di RPH Cakung.

“Pemotongan sapi biasa (untuk kepentingan dagang, red) cuma butuh waktu 30 menit. Tapi pemotongan sapi qurban lebih lama, bisa 2 jam/ekor,” kata Marsudin saat ditemui Tengok.id di RPH Cakung, Jakarta Timur, Selasa (7/8/2018).

Kapasitas potong RPH Cakung yang terbatas itu membuat Marsudin dan beberapa temannya sesama pemotong hewan di RPH Cakung, pesimis jika RPH Cakung bisa memotong semua hewan qurban yang berasal dari 35 masjid.

Ironisnya, meski RPH Dharma Jaya Cakung sudah ditetapkan pemerintah sebagai lokasi pemotongan hewan qurban bagi 35 masjid yang dilarang melakukan pemotongan dan sosialisasi sudah dilakukan sejak jauh hari, toh para pekerja di RPH Cakung hingga Selasa (7/8/2018) mengaku tidak pernah diajak duduk bersama oleh pihak pengelola.

Marsudin mengaku, pihak pengelola terutama Dirut PD Dharma Jaya seharusnya duduk bersama dengan para pemotong hewan terkait teknis pemotongan.

“Masalahnya kita ini orang lapangan, kalau orang pengelola itu nggak tahu di lapangan kayak gimana. Harusnya Dirut atau pihak pengelola datang langsung ke kami untuk menanyakan tentang ini. Kan bisa misalnya memberikan solusi dengan dibuat tim. Misalnya saya punya tim isinya 5 orang, kita punya tugas untuk 10 ekor. Insha Allah 5 jam bisa selesai (untuk memotong 10 ekor hewan qurban berupa sapi),” kata Marsudin, yang diamini Baharudin, pekerja lainnya.

Dalam sehari, kata Marsudin, satu tim bisa saja dimaksimalkan untuk mengerjakan dua shift. Artinya, untuk mengerjakan dua shift pemotongan hewan qurban, setiap orang harus bekerja sedikitnya 12 jam/hari (10 jam untuk pemotongan dan dua jam untuk waktu istirahat).

Dari perhitungan Marsudin itu, satu tim yang beranggotakan lima orang, bisa melakukan pemotongan hewan qurban sebanyak 20 ekor sapi/hari yang dikerjakan secara dua shift. Jika dari 35 masjid ada 300 ekor sapi yang akan dipotong untuk qurban, maka dibutuhkan setidaknya 15 tim atau 75 orang untuk melakukan pemotongan dalam satu hari.

Repotnya, RPH Cakung tak memiliki pekerja sebanyak itu. Sepengetahuan Marsudin, saat ini RPH Cakung memiliki jumlah pekerja sekitar 30 – 40 orang. Pada hari-hari tertentu seperti Idul Adha, jumlah pekerja di RPH Cakung biasanya ditambah, menjadi 50 – 60 orang.

Baca: Kemampuan RPH Cakung (Ternyata) Terbatas

Belum lagi, pada saat bersamaan, mereka juga harus memotong 300 ekor sapi milik UD Dharma Jaya yang sudah laku terjual untuk kepentingan qurban, sebagaimana pengakuan Baharudin. Ke-300 ekor sapi yang sudah laku terjual itu, juga akan sama-sama dipotong di Hari Raya Idul Adha 1439 H tanggal 22 Agustus 2018.

Itu baru pemotongan hewan qurban untuk sapi. Bagaimana dengan kambing yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding sapi? Dari 35 masjid itu, jumlah kambing yang akan dijadikan hewan qurban diperkirakan lebih dari 700 ekor.

Bahkan jumlahnya bisa jadi mencapai lebih dari 1.000 ekor, jika berpatokan pada jumlah kambing yang biasanya dipotong di Masjid Jami Baabut At-Taubah. Jamaludin, imam di Masjid Jami Baabut At-Taubah, salah satu masjid yang terkena larangan pemotongan hewan qurban, mengatakan bahwa setiap Hari Raya Idul Adha di masjidnya terdapat sekitar 50 hingga 80 ekor kambing yang dipotong.

Di mana ratusan ekor kambing yang berasal dari 35 masjid itu dipotong saat Hari Raya Idul Adha, 22 Agustus 2018? Apakah juga dilaksanakan di RPH Cakung, sebagaimana ketetapan pemerintah? Lalu, bagaimana teknis pelaksanaannya?

Biaya Membengkak

Di luar aspek teknis, pelarangan pemotongan hewan qurban di 35 masjid juga akan membuat si pemilik hewan qurban harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar dari biasanya. Jika selama ini di masjid si pemilik hewan qurban hanya dikenakan biaya pemotongan saja yang besarnya sekitar Rp50 ribu untuk kambing dan Rp200 ribu untuk sapi, maka kini biaya yang harus dikeluarkan lebih dari itu.

Di RPH Cakung, sebagaimana penjelasan Baharudin, setiap ekor sapi yang akan dipotong sebagai hewan qurban, dikenakan biaya Rp250 ribu.

“Di Jakarta nggak ada yang gratis mas, saat Idul Adha sapi yang akan dimasukkan ke sini wajib membayar Rp50 ribu. Saat sudah disembelih dan daging akan dibawa keluar ya harus bayar Rp200 ribu, totalnya Rp250 ribu,” kata Baharudin.

Di luar itu, si pemilik hewan qurban juga harus mengeluarkan biaya transportasi yang mencakup pengantaran dari masjid ke RPH dan biaya penjemputan dari RPH ke masjid. Hal ini diungkap Abidin, pengurus Masjid Al-Hilal.

“Setahu saya hasil pertemuannya (antara Dewan Masjid dan Pemprov DKI Jakarta) ialah bahwa mobiliasi hewan kurban dibebankan kepada pemilik hewan. Jadi kami bertugas untuk memberitahukan kepada warga sekaligus RT RW terkait hal tersebut,” kata Abidin.

Dikonfirmasi soal biaya yang dipatok RPH Cakung, Abidin mengaku kaget. Sebab sepengetahuannya, pemindahan lokasi pemotongan hewan qurban dari masjid ke RPH Cakung tersebut, tidak dipungut biaya alias gratis. “Waduh, saya malah baru denger,” ujarnya.

Alhasil, larangan pemotongan hewan qurban di 35 masjid demi menyukseskan gelaran Asian Games ke-18 di kota Jakarta pun, berpotensi kisruh pada tahap pelaksanaannya di Hari Raya Idul Adha 1439 H, 22 Agustus 2018.***

Editor: Hasanuddin

Bagaimana menurut pembaca?