Rechstaat, Tengokberita.com – Revolusi Mental yang digaungkan Joko Widodo (Jokowi) sejak terpilih sebagai Presiden RI pada 2014, seakan tenggelam oleh hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur. Memasuki tahun keempat masa pemerintahannya, Presiden Jokowi boleh dibilang gagal dalam melakukan Revolusi Mental yang digaungkannya sendiri.

Mental para aparatur penyelenggara negara masih saja bobrok. Ditandai, antara lain, dengan masih tingginya kasus korupsi yang terjadi dalam empat tahun terakhir. Juga perilaku-perilaku tak elok lainnya, yang bertalian dengan mental.

Di tubuh Polri, Reformasi dan Revolusi Mental yang terus digelorakan oleh setiap Kapolri yang menjabat, juga masih berjalan terseok-seok. Bahkan di unit tertentu, Reformasi dan Revolusi Mental itu sama sekali tak berjalan.

(baca: Nasib Tersangka Kasus Narkoba: Sudah Disiksa, Duit di ATM Dikuras Habis)

Contoh gamblang diperlihatkan dengan masih digunakannya aksi kekerasan dalam proses penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian. Pemukulan, penyiksaan fisik, setrum listrik, masih sering dilakukan penyidik dalam upaya menggali keterangan dari orang yang diduga terlibat suatu tindak pidana sekaligus memaksa tersangka untuk membuat pengakuan atas perbuatan pidana yang disangkakan kepadanya.

Padahal, seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, pihak kepolisian sudah lama tak lagi memfokuskan diri pada aspek pengakuan tersangka dalam melakukan pengusutan suatu perbuatan tindak pidana. Pihak kepolisian di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, sudah lama mendasarkan penyidikan pada metoda scientific investigation.

Kendati demikian, masih banyak anggota Polri yang lebih suka menggunakan metoda kekerasan ketimbang scientific investigation dalam upaya pengungkapan dugaan suatu kasus pidana. Cara-cara kekerasan inilah yang dilakukan sejumlah oknum polisi dari Polres Metro Jakarta Barat ketika menangani kasus pidana narkotika yang diduga dilakukan oleh Erwin bin Kusmanto pada Desember 2015 lalu.

Disiksa dan Disetrum
Dalam upaya mencari barang bukti narkoba yang dituduhkan kepadanya, Erwin terus dipukuli beberapa oknum penyidik dari Polres Jakbar (semula mengaku dari BNN) yang mendatangi kediaman Erwin dan istrinya, Tuti Herawati, di Perumahan Citra Indah Blok Cempaka X 20/15 Rt 04/08, Sukamaju, Jonggol, Bogor, Jawa Barat, pada 2 Desember 2015 sekira pukul 02.00 dinihari.

Aksi pemukulan oleh petugas terus berlangsung, meski anak-anak Erwin yang masih kecil, menangis ketakutan. Murni, asisten rumah tangga, membangunkan Tuti Herawati yang tidur di kamar. Tuti tak berani ke luar kamar, meski suara kesakitan suaminya terdengar keras setiap menerima pukulan dari petugas.

Tak lama kemudian, dua petugas (seorang di antaranya terlihat menenteng pistol) memasuki kamar tidurnya. Setelah melakukan penggeledahan singkat, salah seorang petugas itu membawa tas sandang berisi uang tunai Rp130 juta yang merupakan hasil penjualan mobil dan dompet milik Erwin yang berisi KTP, kartu ATM, dan aneka kartu identitas diri lainnya.

Dari rumah itu, polisi menyita dua unit mobil milik Erwin, tiga unit HP, buku rekening BCA atas nama Erwin, KTP atas nama Erwin, kunci rumah dan kunci kamar. Dinihari itu juga, polisi membawa Erwin dan Tuti, istrinya.

Pasangan suami istri ini tidak langsung dibawa ke kantor polisi untuk proses pemeriksaan, melainkan dibawa ke sebuah hotel di kawasan Grogol, Jakbar. Di hotel ini, sebagaimana kesaksian Tuti Herawati yang dikutip Tengokberita.com dari Disertasi Rocky Marbun, Erwin kembali mendapat penyiksaan fisik yang jauh lebih sadis.

Dari balik kamar, Tuti mendengar suara arus listrik di kamar hotel tersebut yang terdengar cukup keras. Sesaat kemudian, suara arus listrik itu disertai suara jeritan kesakitan dari sang suami. Tuti menduga kuat saat itu suaminya disetrum petugas, yang memaksa sang suami memberikan nomor PIN ATM BCA dan nomor PIN E-Banking miliknya kepada salah seorang petugas.

Terpisah, kepada kuasa hukumnya saat itu, Erwin mengaku disetrum listrik oleh petugas. Namun sebelum dialiri arus listrik bertegangan tinggi, tubuhnya terlebih dahulu dikencingi salah seorang petugas supaya tubuh Erwin menjadi basah.

Setelah keduanya dibuatkan BAP di kamar hotel, malam harinya sekira pukul 23.00 WIB, polisi membawa pasangan suami istri itu ke Polres Metro Jakarta Barat dan langsung dijebloskan ke tahanan. Pada Jumat, 4 Desember 2015, pasutri itu menjalani pemeriksaan untuk dibuatkan BAP. Ketika itu lah, salah seorang petugas menawarkan kebebasan bagi Tuti Herawati asal menyediakan dana pembebasan sebesar Rp100 juta.

Tuti melakukan penawaran hingga Rp50 juta, tapi ditolak. Tuti kemudian menghubungi kerabatnya, Darsono, untuk dicarikan secepatnya uang Rp100 juta sebagai dana pembebasan dirinya. Esoknya, Sabtu 5 Desember 2015 sekira pukul 10.00, Darsono mendatangi kantor Polres Jakbar sambil membawa uang tunai Rp75 juta.

Karena tidak sesuai dengan jumlah yang diminta, proses tawar menawar antara Darsono dan seorang petugas yang belakangan diketahui bernama Fonda, berlangsung alot. Tuti Herawati baru dibebaskan dari tahanan pada pukul 22.30 setelah menyerahkan uang Rp75 juta yang disebut petugas sebagai dana pembebasan.

Beberapa barang yang disita polisi dari kediamannya, dikembalikan kepada Tuti. Untuk dua unit mobil jenis Avanza dan Mitsubishi Lancer Evo 4, petugas bernama Fonda tadi kembali meminta uang sejumlah Rp35 juta kepada Darsono sebagai biaya untuk mengeluarkan dua mobil dari tempat sitaan di Polres Jakbar. Merasa tak punya uang sebanyak itu, Darsono hanya bisa menyerahkan uang Rp5 juta untuk menebus mobil Avanza. Sedangkan mobil Mitsubishi Lancer Evo 4 hingga kini tak jelas rimbanya.

Dipermalukan Depan Hakim
Ulah bejat oknum kepolisian dari Polres Jakbar itu kembali terungkap setelah dilakukan pengecekan saldo tabungan Erwin di BCA, yang buku rekening tabungan dan kartu ATM miliknya disita salah seorang petugas. Saldo tabungannya di BCA ternyata telah berkurang Rp211.868.488. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, uang lebih dari Rp200 juta milik Erwin itu ditarik oleh salah seorang petugas pada sejumlah transaksi yang dilakukan sepanjang 3 Desember 2015 hingga 14 Desember 2015.

Aneka ulah tak terpuji dari para penyidik dari Polres Metro Jakarta Barat yang menangani kasus pidana narkoba Erwin bin Kusmanto dilaporkan ke Propam. Lalu digugat secara praperadilan ke PN Jakarta Barat.

Dalam sidang praperadilan, terungkap bahwa aksi penggerebekan dan penangkapan pasangan suami istri Erwin-Tuti Herawati itu dilakukan petugas tanpa melengkapi diri dengan surat penggeledahan dan surat penangkapan. Saat ditanya Ketua RT dan petugas keamanan perumahan setempat, petugas tidak bisa memperlihatkan Surat Penggeledahan dan Surat Penangkapan.

Petugas pun tidak secara jelas mengaku dari kesatuan mana. Hanya disebutkan Polisi dari Jakarta sehingga di buku tamu keamanan tertulis Polda Jaya. Sedangkan kepada Murni, asisten rumah tangga, petugas mengaku dari BNN.

Berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan oknum-oknum penyidik dari Polres Jakbar selama proses penggeledahan, penangkapan, penyitaan, penyiksaan, penahanan, pengurasan isi ATM yang bukan haknya, terungkap di persidangan praperadilan.

Semula, oknum polisi yang melakukan penarikan lebih dari Rp200 juta dari rekening BCA milik Erwin, membantah. Tetapi oknum polisi itu tak bisa mengelak ketika nomor HP miliknya muncul di persidangan, dan menjadi bukti telah terjadinya transaksi E-Banking.

Oknum polisi itu pun akhirnya mengakui perbuatannya dan berjanji mengembalikan uang milik Erwin tersebut. Kasus penyiksaan, pemerasan, dan pengurasan isi ATM milik Erwin itu berakhir dengan dibuatnya surat perjanjian pengembalian uang. Tak lama kemudian, pihak kepolisian dari Polres Jakbar mengembalikan uang sekitar Rp360 juta kepada Erwin, dari total jumlah uang yang diminta oknum polisi itu kepada keluarga Erwin sebesar Rp421.868.488.

Hingga kini laporan ke pihak Propam terhadap kasus itu, tidak terlacak. Sementara sidang praperadilannya gugur, karena berkas pokok perkaranya keburu dilimpahkan ke pengadilan. (has)

Bagaimana menurut pembaca?