Tengok.id-Dua orang yang diduga melakukan perobekan catatan transaksi keuangan yang mengalir ke sejumlah individu di tubuh kepolisian adalah Ajun Komisaris Besar Polri (AKBP) Roland Ronaldy, dan Komisaris Harun. Roland Ronaldy kini menjabat sebagai Kapolres Cirebon.

Dilansir dari IndoneiaLeaks, Roland saat baru tiga bulan menjabat sebagai Kapolres Cirebon, menebar senyum saat melayani pertanyaan wartawan mengenai persiapan polisi menghadapi arus mudik Idul Fitri 1439 Hijriah, pertengahan Juni 2018.

Aneka ragam pertanyaan wartawab yang menemuinya di Pos Pelayanan Lebaran 2018 Rest Area 208 Tol Palikanci Polres Cirebon Kota, seminggu sebelum lebaran, dijawab dengan lugas oleh Roland.

Ia pun esekali menunjuk peta besar yang terpajang di dinding hadapannya ketika di Mapolres. Roland antusias saat menerangkan sejumlah persiapan pengamanan rute pemudik di Cirebon.

Tetapi suasana itu berubah saat sejumlah wartawan IndonesiaLeaks melanjutkan sesi wawancara di dalam ruang kerjanya.

Rona wajah Roland mendadak berubah, sesaat setelah duduk di kursi karena membaca salinan digital dokumen berkop KPK dalam ponsel yang baru saja disodorkan wartawan kepadanya.

“Apa? Apaan nih? Maksudnya?” ujar Roland sembari menggulirkan jempolnya di layar ponsel itu. Sesaat ia terdiam dan membaca dengan seksama dokumen digital yang diberikan.

Dokumen yang dibaca Roland adalah salinan digital berkas yang disebut-sebut melatari dirinya terpaksa dipindahkan dari KPK. Berkas yang dibaca adalah salinan BAP penyidik KPK Surya Tarmiani terhadap Kumala Dewi Sumartono, staf keuangan CV Sumber Laut Perkasa, tertanggal 9 Maret 2017.

Pertanyaan dalam BAP yang disusun penyidik KPK Surya Tarmiani dimulai dengan nomer 35. Ini menunjukkan bahwa 34 pertanyaan diajukan kepada saksi yang sama pada pemeriksaan sebelumnya.

Kumala Dewi diperiksa sebagai saksi untuk Ng Fenny, salah satu tersangka dalam kasus suap pengusaha impor daging Basuki Hariman terhadap hakim konstitusi Patrialis Akbar. Sebagaimana Kumala, Ng Fenny adalah anak buah sekaligus tangan kanan Basuki Hariman.

(baca:KPK Ditantang Periksa Kapolri Tito Karnavian)

Uang suap itu untuk mengatur hasil akhir uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Uji materi UU sangat penting bagi Basuki, karena menentukan nasib importir daging seperti dirinya.

Merujuk dokumen surat perintah penyidikan yang diteken Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif tertanggal 26 Januari 2017, terdapat 12 penyidik yang mendapat tugas menangani perkara suap impor daging sapi oleh Basuki Hariman. Selain Surya Tarmiani, terdapat pula HN Christian, Muslimin, Rufriyanto M Yusuf, Hendry S Sianipar, serta Roland dan Harun.

Ini kan soal rahasia, ngapain sih ditanyain lagi,” ucap Roland . Ia kemudian mengembalikan ponsel itu kepada jurnalis.

Saya kan tidak tahu, saya sudah di sini. Udah, nggak usah lu bahas lagi yang kayak gitu. Udah selesai itu. Suka banget bahas-bahas yang lama”ujar dia.

“Udahlah, kalau mau bahas ini (persiapan lebaran), ayo! Saya nggak mau kalau bahas itu,” ujarnya lagi.

Wawancara itu akhirnya terhenti setelah Roland memanggil stafnya masuk ke ruangan untuk memastikan rekaman terhapus dari kartu memori kamera.

Sedangkan di Jakarta, Harun juga tak membalas surat permintaan wawancara IndonesiaLeaks mengenai dugaan skandal perusakan barang bukti penyidikan KPK, maupun dokumen pemeriksaan Kumala oleh Surya Tarmiani.
BAP Hasil pemeriksaan Surya Tarmiani pada 9 Maret 2017 terhadap Kumala Dewi yang menyebut nama Tito Karnavian dalam catatan keuangan di Buku Merah.

Surat tak berbalas, IndonesiaLeaks justru berhasil menemui Harun pada malam hari di rumahnya, kawasan Palmerah, Jakarta Barat.

Sayangnya Harun memilih bungkam ketika dikonfirmasu mengenai dugaan perusakan buku merah barang bukti penyidikan, serta keberadaan BAP Kumala yang dibuat oleh Surya Tarmiani.

Sudah, sudah, nggak usah” terang Harun turun dari mobilnya. Ia lantas terburu-buru menutup pagar dan masuk ke dalam rumah.

Demikian juga penyidik lainnya, Surya, juga enggan menjelaskan tentang dokumen BAP yang tertera nama dirinya, serta disebut tak pernah terpakai dalam persidangan Basuki, Ng Fenny, maupun Patrialis.

“Begini saja deh, tanya saja sama pimpinan ya,” ujarnya di kantor KPK, Jumat ( 21/9/2018)

Namun, Surya tak membantah meski tak secara lugas mengakui pernah memeriksa Kumala Dewi. “Sudahlah, sudah lewat,” ucap Surya.

Ketua KPK Agus Rahardjo, bahkan memberikan jawaban off the record ketika dikonfirmasi mengenai dokumen pemeriksaan tersebut

Bagaimana menurut pembaca?