Oleh: Prof. Dr. Manlian Ronald. A. Simanjuntak, ST., MT., D.Min
(Guru Besar Universitas Pelita Harapan)

A. Latar Belakang

Sebelum Gempa Tsunami terjadi di Sulawesi Tengah jam 17.02 wib, BMKG lebih dulu telah memutakhirkan terjadinya gempa yang semula M 5,9 menjadi M6 dimana pusat gempa 2 km arah utara Kota Donggala di kedalaman 10 km pada Jumat, 28 September 2018, pukul 14.00.00 WIB. Sumber gempa berasal dari Sesar Palu Koro.

Berdasarkan analisis peta gempa bumi, hal ini dilaporkan dirasakan di daerah Donggala IV MMI, Palu III MMI, Poso II MMI). Saat itu gempa tidak berpotensi Tsunami. Walaupun demikian, gempa susulan terjadi kembali.
Selanjutnya gempa bumi berkekuatan magnitude 7,7 dimutakhirkan BMKG menjadi magnitudo 7,4 telah mengguncang wilayah Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 jam 17.02 WIB.

Pusat gempa 10 km pada 27 km Timur Laut Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini dipastikan berpotensi Tsunami. BMKG telah menginformasikan juga Tsunami memiliki status Siaga (tinggi potensi tsunami 0,5 – 3 meter) di pantai Donggala bagian barat, dan status Waspada (tinggi potensi Tsunami kurang dari 0,5 meter), demikian hal ini disampaikan oleh
Sutopo Purwo Nugroho (Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB).

B. Perilaku Gempa

Data sementara dari berbagai sumber hingga Minggu jam 10.00 wib 30 September 2018, korban jiwa manusia sejumlah 450 orang meninggal dunia. Hingga kajian ini dibuat, dimungkinkan potensi gempa susulan dapat terjadi.
Belajar dari sejumlah potret gempa baik di Sulteng, Lombok, dan lainnya, beberapa hal yang dapat dicermati:

Satu
Gempa adalah bencana yang tidak dapat diprediksi kapan terjadi, dan secara prinsip berbasis “penanggulangan”.

Dua
Walaupun gempa adalah bencana yang tidak dapat diprediksi kapan terjadi, namun “perilaku gempa dapat dipelajari”. Berdasarkan peta Gempa dan beberapa kajian aktivitas Sesar Palu Koro sepanjang lebih dari 500 km, dapat dipelajari perilaku gempa yang dapat terjadi. Perilaku gempa yang merobek SulTeng ini ternyata tercatat ada sejumlah 9 Sesar Palu Koro yang menjadi potensi gempa yang mengguncang SulTeng.

Tiga
“Dokumentasi perilaku gempa” secara khusus yang tercatat sebagai sejarah di SulTeng seharusnya menjadi pedoman penyelenggaraan kehidupan di SulTeng.

C. Prinsip Kebencanaan

Secara filosofis ada 3 fase kebencanaan:
1. Pra Bencana
2. Saat Bencana
3. Pasca Bencana
Hal ini juga tercatat dalam Undang-Undang Penanggulangan Bencana yang menjadi prinsip penyusunan program kebencanaan di tingkat nasional dan daerah.

 

D. Permasalahan

Belajar dari bencana gempa yang terjadi di SulTeng dan juga beberapa bencana gempa lainnya, permasalahan penting yaitu: Mampukah Indonesia membangun merespon bencana gempa secara khusus di SulTeng 28 September 2018?

E. KAJIAN KRITIS

Berikut ini kajian kritis yang direkomendasikan:

SATU

Indonesia bukan saja membangun saat kondisi tenang, nyaman, dan sebelum bencana terjadi!!!
Indonesia bukan saja membangun saat terjadi bencana!!!
Indonesia bukan saja membangun pasca bencana!!!
“Indonesia membangun saat pra bencana, merespon saat bencana terjadi, saat pasca bencana”….!!!! Ini perubahan peradaban Indonesia. Saat ini Indonesia baru siap membangun saat pra bencana. Kita mungkin bahkan tidak siap membangun pasca bencana. Hal ini yang harus dipelajari Indonesia. Ini pelajaran mahal !!!. Jadi seluruh elemen harus memuat program pembangunan di ketiga fase di atas.

DUA.

Indonesia saat ini menanggulangi dan mengendalikan pasca bencana baik di Sulawesi Tengah maupun Lombok. Harus direncanakan dan dilaksanakan program merespon bencana gempa baik di SulTeng maupun di Lombok secara sistematis dan adil. Jangan ada perbedaan pertolongan. Pertolongan bantuan harus adil. Pembangunan pasca bencana juga harus adil..!!

TIGA

Kekuatan Indonesia merespon bencana adalah “doa dan dokumentasi”. Sehubungan dengan dokumentasi, seluruh data peta gempa, lingkungan, dan pembangunan di daerah dan nasional “wajib dilengkapi”. Presiden “harus” memerintahkan seluruh kementerian, Pemda, BMKG, BNPB untuk melengkapi seluruh data sejarah perilaku gempa di seluruh Indonesia. Ini buktinya negara hadir…!!! Ini juga bukti nyata Nawa Cita..!!!

EMPAT

Optimalkan Undang-Undang Penanggulangan Bencana No.24 tahun 2007. Sudahkah PP Undang-Undang ini diimplementasikan? Sudahkah 34 provinsi memiliki dan melaksanakan Perda tentang Penanggulangan Bencana? Apakah ada Program Pencegahan-Penanggulangan-Pengendalian Bencana?

Indonesia harus mampu merespon bencana saat Pra Bencana-Saat Bencana-Pasca Bencana.
Program Pembangunan Indonesia telah dipersiapkan dan dilaksanakan sebelum-saat-sesudah bencana terjadi. Kita review Program Pembangunan saat ini. Mampukah Pembangunan Indonesia merespon “bencana”?

Bagaimana menurut pembaca?