Tengok.id – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra memandang masih banyak permasalahan bagi penyandang disabilitas, terutama bagi anak-anak. Permasalahan yang dinilai penting ialah pemberian layanan kesehatan bagi anak penyandang disabilitas.

“Contohnya pada pemberian layanan kesehatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pemerintah harus memberikan JKN yang sama pada mereka (bagi anak penyandang disabilitas),” ujar Jasra dalam keterangan tertulis yang diterima Tengok.id, Kamis (20/9/2018).

Bukan tanpa alasan, Jasra mengatakan, menurut data Kementerian Sosial (Kemensos) pada tahun 2012 jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 6.008.640 jiwa, sedangkan data sensus penduduk 2015 menyatakan sebanyak 15.725.698 jiwa.

Jasra mengungkapkan dari data keduanya, 30% di antaranya ialah anak-anak. Data tersebut menunjukkan bahwa masih banyak penyandang disabilitas dari kalangan anak-anak.

Jasra menilai selama ini Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih belum diakses bagi anak penyandang disabilitas lantaran terbentur oleh aturan yang tidak mengatur mengenai hal tersebut.

Bahkan BPJS yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan masih tidak dapat menyelesaikan permasalahan kesehatan bagi anak-anak penyandang disabilitas.

“Terbentur karena aturan yang tidak ada. Belum kesalahan penanganan yang terus menghantui anak-anak, sampai akhirnya meninggal di rumah sakit. Beberapa orangtua kerap kali berteriak atas situasi layanan jaminan kesehatan tersebut dan terungkap di media belakangan,” kata Jasra.

Ia menilai bahwa dengan adanya akses kesehatan yang mumpuni bagi anak penyandang disabilitas, diharapkan mereka dapat berprestasi serta mandiri dengan keadaan yang ada.

Jasra juga menyarankan agar dibangun Pusat Layanan Disabilitas yang bisa menjadi pusat pembelajaran bagi orang tua yang membutuhkan informasi dan jaminan kehidupan anaknya. Dengan dibangunnya pusat layanan dinilai telah melakukan pemerataan akses informasi dalam penanganan anak-anak penyandang disabilitas.

BacaKekerasan Seksual Penyandang Disabilitas Terus Meningkat, Siapa Peduli?

Gizi Buruk

Disabilitas pada anak bisa disebabkan beragam faktor. Antara lain faktor kemiskinan orangtua sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi anak ketika dalam kandungan, tidak dapat mengakses fasilitas kesehatan yang ada (imunisasi anak) dikarenakan faktor keterbatasan biaya. Pada umumnya anak-anak penyandang disabilitas dari kelompok ekonomi ke bawah belum memperoleh pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya.

Masalah disabilitas pada anak merupakan masalah yang cukup kompleks baik secara kuantitas maupun kualitas, mengingat berbagai jenis kecacatan mempunyai permasalahan tersendiri.

Jika masalah ini ditangani secara dini dengan baik dan keterampilan mereka ditingkatkan sesuai minat, maka beban keluarga, masyarakat dan negara dapat dikurangi. Sebaliknya, jika tidak diatasi secara benar, maka dampaknya akan memperberat beban keluarga dan negara.

Masalah kesehatan yang dialami oleh anak penyandang disabilitas tidak jauh berbeda dengan anak pada umumnya seperti batuk, pilek, diare dan influenza. Adapun dampak disabilitas tertentu pada anak yaitu : anak mengalami hambatan dalam penyesuaian diri, sulit berkomunikasi, terkena penyakit, terbatas dalam proses belajar, kurang percaya diri.

Hak-hak kesehatan bagi anak-anak penyandang disabilitas :
(1) berhak memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak, seperti pelayanan imunisasi, pemenuhan gizi seimbang, dan pemantauan tumbuh kembang anak;
(2) berhak memperoleh pelayanan dokter spesialis atau psikolog sesuai dengan jenis dan derajat kedisabilitasan;
(3) Anak penyandang disabilitas berhak memperoleh informasi kesehatan seperti kesehatan reproduksi dan kesehatan diri;
(4) Anak penyandang disabilitas dari keluarga tidak mampu, pengemis, atau telantar berhak mendapat jaminan pemeliharaan kesehatan (jamkesmas atau jamkesda setempat) untuk memperoleh pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit.***

 

Editor : Hasanuddin

Bagaimana menurut pembaca?