Tengok.id-Beranikah KPK memeriksa Kapolri Tito Karnavian yang disebut-sebut menerima aliran dana dari kasus korupsi CV Sumber Laut Perkasa. Pertanyaan itu dilontarkan mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Selain itu dia mempertanyakan kesungguhan KPK untuk menuntaskan kasus yang sempat mengendap selama beberapa waktu tersebut.

“Pimpinan KPK tengah diuji publik apakah punya nyali untuk membongkar kasus ini hingga tuntas, setidaknya memanggil dan memeriksa Tito Karnavian,” ujar Bambang di Jakarta, Selasa (9/10/2018)

Pernyataan ini perlu disampaikan untuk menanggapi pemberitaan mengenai dugaan perusakan barang bukti berupa buku bank bersampul merah atas nama Serang Noor IR oleh dua penyidik KPK, Ajun Komisaris Besar Roland Ronaldy dan Komisaris Harun kala itu. Roland dan Harun diduga sudah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank itu dan membubuhkan tip ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari Basuki Hariman termasuk terhadap Tito Karnavian.

Seperti diketahui peristiwa tidak terpuji itu terekam kamera CCTV di ruang kolaborasi lantai 9 Gedung KPK pada 7 April 2017. KPK telah mengembalikan keduanya ke kepolisian karena dugaan perusakan.

Isi lembaran buku yang hilang tersebut berisi catatan transaksi keuangan yang dibuat oleh Bagian Keuangan CV Sumber Laut Perkasa Kumala Dewi Sumartono. Keterangan Kumala soal buku itu tercatat dalam berita acara pemeriksaan yang dibuat oleh penyidik KPK Surya Tarmiani pada 9 Maret 2017.

(baca: KPK Diminta Usut Dugaan Korupsi di Tiga Kementerian)

Dokumen pemeriksaan tersebut mengungkap keterangan Kumala tentang catatan pengeluaran uang Basuki yang ditengarai salah satunya buat para petinggi polisi, termasuk kepada Tito Karnavian . Ketika bersaksi untuk kasus yang sama di pengadilan tindak pidana korupsi pada 3 Juli lalu, Kumala Dewi juga mengakui dialah yang membuat buku catatan itu atas perintah Basuki dan atasannya, Ng Fenny, yang menjabat general manager.

Berdasarkan dokumen pemeriksaan yang diperoleh IndonesiaLeaks, Surya Tarmiani meminta penjelasan ke Kumala tentang 68 transaksi yang tercatat dalam buku bank merah atas nama Serang Noor . Catatan arus uang masuk dan keluar dalam mata uang rupiah, dolar Amerika, dan Singapura. Tak semua penerima tertulis dengan nama jelas. Sebab sebagian menggunakan inisial.

Dalam salinan berita acara pemeriksaan disebutkan ada 19 catatan transaksi untuk individu yang terkait dengan institusi Kepolisian RI. Nama Tito Karnavian tercatat paling banyak mendapat duit dari Basuki Hariman langsung maupun melalui orang lain. Dalam dokumen buku bank merah nama Tito tercatat sebagai Kapolda/Tito atau Tito saja.

Menurut Kumala dalam dokumen pemeriksaan, ada pemberian dana kepada Tito Karnavian saat ia menduduki kursi Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Tito Karnavian memegang posisi ini dari Juni 2015 hingga Maret 2016. Empat pengeluaran lain tercatat saat ia menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada Maret-Juli 2016. Aliran lain tercatat sesudah ia dilantik Kepala Kepolisian RI. Nominal untuk setiap transaksi berkisar Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian enggan menanggapi informasi aliran dana dalam berkas penyidikan Kumala. Tak satu pun pertanyaan yang ia jawab. Ia mengaku sudah mendelegasikan permohonan wawancara tim Indonesialeaks kepada bawahannya. “Sudah dijawab sama humas,” kata dia kepada IndonesiaLeaks

Bagaimana menurut pembaca?