Figur, Tengokberita.com – Pernyataan Kitab Suci Itu Fiksi yang disampaikan Rocky Gerung dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa 10 April 2018, terus menuai kontroversi di masyarakat. Banyak yang mendukung, tak sedikit pula yang menentang.

Pernyataan itu bahkan mengantarkan dosen Metodologi Filsafat di Program Studi (Prodi) Filsafat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia ini berurusan dengan hukum. Kitab Suci Itu Fiksi dinilai sebagian kalangan sebagai bentuk penodaan terhadap agama sebagaimana diatur dalam Pasal 156a KUHP dan ada pula yang menggiringnya ke arah ujaran kebencian (hate speech) sebagaimana diatur dalam Pasal 28 UU ITE.

Lalu, siapakah Rocky Gerung? Pria kelahiran Manado, 20 Januari 1959 ini bukanlah ahli politik, meski di ILC sering diundang untuk menjadi nara sumber dalam tema-tema berbau politis. Rocky Gerung (RG) adalah Sarjana Filsafat jebolan Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia tahun 1986.

Meski bergelar akademis filsafat, toh pernyataan-pernyataan dan analisa-analisanya selalu bernas dan lugas. Itu sebab, belakangan, RG sering diundang untuk menjadi menjadi nara sumber dalam program ILC yang dipandu Karni Ilyas itu. Argumentasinya seringkali menjadi sorotan karena mengundang kontroversi.

(baca: Ketua PBNU Pun Tak Mempermasalahkan ‘Kitab Suci Itu Fiksi’)

Misalnya ketika pria berkaca mata ini diundang untuk menjadi nara sumber dalam tema Penanganan Berita Hoax yang diangkat ILC beberapa waktu lalu. Menurut Rocky, pemerintah saat ini sedang panik. RG berpendapat kalau pembuat hoax terbaik adalah penguasa.

Pendapatnya itu, tentu saja, membuat pihak penguasa kebakaran jenggot. Tak heran jika peserta ILC pernah ada yang berkomentar, “Anda diundang ke ILC sebagai akademisi tetapi Anda menempatkan diri sebagai politisi”. Tetapi RG berhasil menjawabnya dengan penuh filosofi.

Sebagai orang yang dekat dengan dunia filsafat, seringkali Rocky mengeluarkan pendapat menggunakan bahasa-bahasa filsafat di mana sering menimbulkan pro dan kontra. Ia juga sering menulis pandangannya di media.

Saking menguasainya beragam persoalan yang dibahas di ILC, ia sering dipanggil dengan sebutan profesor. Namun, ia menolaknya. Rocky bilang, ia bisa jadi profesor, tapi tak perlu. Begitu jawabnya.

Tak hanya itu, Rocky Gerung juga mampu menjawab dan berinteraksi di media sosial Twitter. Cuitannya selalu bernas dan kadang mengocak perut warganet. Beragam komentar pun bemunculan, baik yang pro maupun kontra. Ia tetap menikmatinya.

Di Twitter, RG juga sering ‘digoda’ para pengikutnya yang bergender wanita. Maklum, di usinya yang sudah senja, RG masih menikmati statusnya yang lajang. Padahal, RG terbilang memiliki wajah yang tampan. Kulitnya pun putih bersih, sebagaimana orang Manado pada umumnya.

Bersama teman-temannya, RG mendirikan Yayasan Padi dan Kapas, yang kemudian mendirikan Sekolah Ilmu Sosial (SIS). Di sini, orang belajar pemikiran politik para pendiri bangsa hingga filsuf besar dunia. SIS juga reguler mempromosikan karya-karya akademis para intelektual Indonesia.

Para aktivis di tahun 1980-an, tentu tak asing mendengar Yayasan Padi dan Kapas dengan SIS-nya. RG menjadi kepala sekolahnya saat itu.

Pada tahun 2007, Rocky mendirikan lembaga SETARA Institute yang fokus pada isu kesetaraan, HAM, dan keberagaman. Lalu, RG pun menjadi Peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D). (has)

Bagaimana menurut pembaca?