Tengok.id, Jakarta –  Akibat gempa dan susulan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, instalasi PLN banyak mengalami kerusakan parah. Bahkan kerusakan Palu Donggala, lebih hebat dibandingkan bencana alam di Aceh dan Lombok, beberapa waktu lalu.

Dari 7 gardu induk di Palu Donggala, 5 mengalami kerusakan parah. Hingga kini, akibat dampak gempa berkekuatan 7,4 skala richter, disusul tsunami, pada Jumat (28/9/2018),  ribuan bangunan rusak, listrik padam dan lebih dari seribu korban meninggal.

Demikian dikatakan Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tengok.id, Selasa (2/10/2018). Dan untuk memulihkan segera aliran listrik, pihaknya terus melakukan berbagai upaya dan diharapkan listrik segera pulih secara bertahap.

Menurutnya, daerah di Palu dan Donggala yang teraliri listrik baru sekitar  40 persen wilayah.

BacaMenhub Budi Karya Tegaskan Tidak Ada Penerbangan Gratis di Palu

Saat ini kendala yang dihadapi perseroan yakni interbus transformation (IBT) atau trafo penyambung listrik ke perumahan dari 150 kv ke 70 kv sedang bermasalah. Sehingga, hal ini menjadi penyebab aliran listrik susah diakses di dua daerah tersebut.

Meski begitu, Syofvi belum memprediksi kapan listrik di dua daerah tersebut bisa menyala normal. Menurut dia, hal tersebut tergantung dari pemulihan 5 gardu induk yang mengalami kerusakan.

Pihaknya menunggu hasil laporan untuk kerusakan terakhir di sana, terpenting adalah upaya pemulihan terlebih dahulu. Presiden Joko Widodo pada hari ini, Rabu (3/10/2018), kembali  meninjau lokasi gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah.

Menurut Jokowi, saat ini pemerintah fokus dalam upaya memperbaiki aliran listrik. Untuk sementara, dia mengatakan sudah memenuhi 40 persen kebutuhan genset.

“Listrik di jalan-jalan mulai dibetulkan kabelnya, dibetulkan tiangnya, dibetulkan gardu-gardu di jalanan. Itu perlu proses semuanya,” kata dia di Hotel Roa Roa, Jalan Patimura, Palu, Sulteng.

Menurut Jokowi, perbaikan gardu listrik sebesar itu jelas membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa berbulan-bulan.

Editor : Ari Utari

Bagaimana menurut pembaca?