Tengok.id, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) akan memblokir konten-konten grup LGBT yang marak di facebook. Salah satunya, yang muncul di Garut, Jawa Barat. Munculnya facebook penyuka sesama jenis atau gay ini, yang anggotanya banyak dari kalangan pelajar SMP/SMA  sontak menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.

Dalam keterangan tertulis Kemkominfo, Rabu (10/10/2018), yang diterima Tengok.id, Rabu (10/10/2018),  disebutkan hingga hari ini, Kemkominfo belum menerima surat pemberitahuan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait grup-grup LGBT tersebut.

“Meski demikian, selama Selasa dan Rabu, Subdit Pengendalian Konten Internet Negatif Ditjen Aplikasi Informatika telah melakukan analisis atas konten pada grup facebook yang diduga mengandung muatan LGBT tersebut,” kata Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo, Ferdinandus Setu.

Dalam keterangan disebutkan, Subdit Pengendalian Konten Internet Negatif Kemkominfo akan memblokir atau pemutusan akses jika konten-konten pada grup facebook tersebut mengandung muatan pornografi.

BacaGuratan Merah Misterius di Punggung Viral, Ternyata Bekas Kerokan

Menurut Ferdinandus,  Subdit Pengendalian Konten Internet Kemkominfo tengah berkoordinasi dengan Polres Garut mengenai keberadaan grup tersebut.

“Pada penyelidikan awal, anggota ternyata tidak hanya Garut, tapi juga ada dari seputaran tetangga garut, seperti Bandung, Bogor, Jakarta bahkan sampai ada dari luar Jabar anggotanya,” ujar Kapolres Garut AKBP, Budi Satria Wiguna, Senin, (8/10/2018)

Menurut Budi, kemunculan akun bermasalah itu langsung mendapatkan reaksi dari masyarakat, lembaganya langsung menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan pendalaman dan penyelidikan. “Kita lihat apakah kelompok itu terorganisir atau liar,” kata dia.

Hingga kini, lembaganya masih fokus melakukan penyidikan, sehingga belum diketahui pasti apa sebenarnya aktivitas anggota akun tersebut lakukan.

“Belum tahu (motif), tapi kalau tidak didalami kan bahaya juga, mungkin saja ada kelompok yang menciptakan suasana atau cipta kondisi,” papar dia.

Mengacu UU 44/2008, pemblokiran akses internet dilakukan jika secara eksplisit memuat konten persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang, kekerasan seksual, masturbasi atau onani, ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan, alat kelamin, atau pornografi anak.

Editor : Ari Utari

Bagaimana menurut pembaca?