Tengok.id – Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Asal ada kesungguhan dan kemauan yang kuat, apa yang diinginkan bisa tercapai.

Inilah yang diperlihatkan Jendi Pangabean, atlet renang difabel andalan Indonesia. Meski hanya memiliki satu kaki, pemuda berusia 27 tahun ini mampu mengukir aneka prestasi gemilang di berbagai kejuaraan difabel internasional.

Sukses yang kini dipetik Jendi tidak didapat dengan mudah dan tidak datang secara tiba-tiba. Butuh perjuangan dan kerja keras selama bertahun-tahun guna mencapai puncak prestasinya seperti sekarang ini.

Jendi Pangabean terlahir sebagai orang normal di Desa Sugih Waras, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, 10 Juni 1991. Sebuah kecelakaan lalu lintas yang dialaminya saat berusia 11 tahun, membuat Jendi kehilangan kaki kirinya.

“Saya terlahir sebagai manusia normal. Tapi ketika menginjak usia 11 tahun saya mengalami kecelakaan. Saya terpental dan mengakibatkan luka parah di kaki sebelah kiri sehingga harus diamputasi,” kata Jendi saat ditemui Tengok.id di Jakarta, Selasa (18/9/2018) lalu.

Kala itu Jendi mengalami kecelakaan sepeda motor ketika dibonceng seorang temannya di kampung halamannya di Sugih Waras. Dalam peristiwa itu, kata Jendi, temannya malah tidak mengalami luka berat.

“Saat itu saya tengah dibonceng oleh teman. Namun, kondisi teman saya tak apa-apa. Malahan saya yang jadi korban,” kata Jendi mengenang kembali masa awal ketika dirinya kehilangan salah satu kakinya.

Saat kecelakaan, Jendi masih tersadar. Ia hanya merasakan sakit amat perih di bagian kaki sebelah kirinya.

Baca: Atlet Difabel Indonesia Tak Bisa Dianggap ‘Sebelah Mata’

“Saya melihat sendiri kaki kiri saya hancur. Kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit. Dokter menyarankan untuk diamputasi karena sudah tidak bisa diselamatkan. Setelah dioperasi saya melihat bagaimana kondisi saat itu,” sambungnya.

Ketika itu Jendi yang terbilang masih anak-anak, belum menyadari apa yang sedang terjadi dan bagaimana dampak bagi kehidupannya di kemudian hari setelah salah satu kakinya diamputasi dokter.

Ia hanya melihat kedua orangtuanya cukup terpukul atas kejadian itu. Apalagi hingga menyebabkan kaki kiri Jendi diamputasi. Selepas kecelakaan yang mengakibatkan ia kehilangan kaki kirinya itu, Jendi tetap melanjutkan sekolah seperti biasa. Beruntung, seluruh temannya tetap menyambutnya dengan baik dan bergaul seperti biasa.

Selepas SMP, Jendi remaja hijrah ke kota Palembang untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Maklum, kata Jendi, Sugih Waras tempat ia dilahirkan dan dibesarkan hanyalah sebuah kampung yang hanya memiliki sekolah hingga tingkat SMP.

Biodata Jendi Panggabean
Biodata Jendi Panggabean

“Saya orang desa. Lahir di kampung, di Desa Sugih Waras, Sumatera Selatan. Saya lanjut sekolah ke kota Palembang. Saya merantau sendiri dan kost bersama teman di Palembang,” katanya.

Ketika kost di Palembang itu lah, pikirannya mulai terbuka akan gambaran masa depan yang akan dialaminya kelak. Ia baru menyadari mengapa kedua orangtuanya begitu terpukul melihat dirinya hidup dengan kondisi satu kaki.

Jendi remaja mulai menggali potensi yang ada dalam dirinya, demi menyongsong masa depannya. Saat kecil di kampungnya dan sebelum peristiwa kecelakaan lalu lintas yang merenggut kaki kirinya itu terjadi, Jendi mengisahkan, ia sering berenang di kali dan paling jago dibanding teman-temannya.

Bakat Alam

Mulai saat itu lah, Jendi mencari informasi tentang olahraga renang bagi penyandang disabilitas.

Bagaimana menurut pembaca?