Tengok.id – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) selaku pihak yang paling bertanggung jawab terhadap keamanan dalam negeri, terus berupaya memberikan kepastian jaminan keamanan bagi penyelenggaraan Asian Games ke-18.

Polri benar-benar tak mau kecolongan dari segala bentuk gangguan keamanan yang berpotensi mengganggu jalannya Asian Games ke-18. Maklum, pesta olahraga empat tahunan bangsa-bangsa di benua Asia itu, merupakan hajatan akbar bangsa Indonesia. Nama dan martabat bangsa Indonesia dipertaruhkan dalam gelaran Asian Games.

Salah satu bentuk gangguan keamanan yang sangat berpotensi mencoreng wajah Indonesia di dunia internasional dalam gelaran Asian Games, adalah aksi terorisme. Polri, dan juga seluruh rakyat Indonesia, tentu tak menginginkan gelaran Asian Games yang berlangsung 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018 serentak di kota Jakarta, Palembang, dan beberapa kota di Jawa Barat dan Banten, diwarnai dengan aksi terorisme.

Guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan ini terjadi di Asian Games, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri terus bergerak dalam senyap. Pada Jumat (3/8/2018), Tim Densus 88 Antiteror Polri menggulung delapan terduga teroris di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari informasi yang dihimpun, delapan terduga teroris tersebut masing-masing berinisial DS, E, N, A, AS, HF, AAS, dan Y. Kedelapan terduga teroris ini ditangkap di empat kecamatan berbeda di Tasikmalaya yaitu Cihideung, Bungursari, Tawang, dan Mangkubumi.

Penangkapan dilakukan secara bergantian mulai dari malam hingga pagi. Kedelapan orang yang diciduk Densus 88 tersebut, disinyalir merupakan jaringan sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Iya ada sekitar delapan terduga teroris yang diamankan dari Tasikmalaya,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol M Iqbal saat dikonfirmasi Tengok.id, Sabtu (4/8/2018).

Iqbal mengatakan, tiga hari sebelumnya, enam terduga teroris ditangkap di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Dengan demikian, kata Iqbal, dalam waktu tiga hari (Selasa 31/7/2018 hingga Jumat 3/8/2018), Tim Densus 88 Antiteror Polri telah menggulung 14 terduga teroris dari sejumlah tempat di Jawa Barat seperti Subang, Bandung, Bogor, Cirebon, Indramayu, dan terakhir di Tasikmalaya.

Baca: Jangan Beri Ruang Bagi Teroris Beraksi di Asian Games

Brigjen Iqbal belum berkomentar lebih jauh, apakah ke-14 terduga teroris yang ditangkap itu berencana akan menggelar aksinya di ajang Asian Games atau tidak. “Belum…belum ke sana. Masih didalami,” kata Iqbal.

Pastinya, kata Brigjen Pol Iqbal, mereka diduga memiliki kaitan dengan beberapa kasus teror seperti bom Kampung Melayu Jakarta (Mei 2017) dan peristiwa di Mako Brimob Polri, Depok, Jawa Barat (Mei 2018).

Penangkapan 14 terduga teroris itu, kian menambah panjang daftar terduga teroris yang ditangkap. Sejak Mei 2018, Tim Densus 88 Antiteror telah menangkap 256 terduga teroris. Mereka terlibat aksi bom Kampung Melayu, bom Surabaya (Jawa Timur), peristiwa di Mako Brimob Polri, dan rencana mengganggu pelaksanaan Pilkada 2018.

Sementara itu, peneliti antiterorisme Certified Counter Terrorism Practitioner, Rakyan Adibrata ketika dihubungi mengatakan, langkah pencegahan Polri melalui penangkapan lebih dari 200 terduga teroris itu, patut diapresiasi. Terlebih saat ini menjelang Asian Games yang akan digelar beberapa hari lagi.

Namun penangkapan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemberantasan terorisme di Indonesia masih jauh dari kata selesai.

Atas dasar itu, untuk meredam perkembangan terorisme di Tanah Air, Rakyan mengingatkan agar seluruh pemangku kebijakan, pemerintah daerah, hingga organisasi kemasyarakatan perlu meningkatkan langkah-langkah pencegahan.

Hal itu dapat dilakukan dengan program kontra radikalisasi dan deradikalisasi. “Teroris ini harus diberantas secara bersama sama,” tuturnya.***

Editor: Hasanuddin

Bagaimana menurut pembaca?