Tengok.id – Gelaran Asian Games 18 tahun 2018 yang berlangsung sejak 18 Agustus 2018, berakhir hari ini, Minggu (2/9/2018). Bagi Indonesia, pesta olahraga empat tahunan terakbar bangsa-bangsa di benua Asia itu berakhir dengan hasil gemilang.

Sebuah sejarah telah terukir begitu indahnya. Sebuah tinta emas tergores begitu berkilaunya. Hingga Sabtu (1/9/2018) malam atau sehari jelang penutupan, Indonesia meraih total 96 medali. Rinciannya 31 medali emas, 24 medali perak, dan 41 medali perunggu.

Dengan raihan medali tersebut, posisi Indonesia di peringkat 4 semakin tak tergoyahkan. Sebuah capaian prestasi olahraga nasional yang jauh melebihi target yang dipatok pemerintah, masuk posisi 10 Besar dengan perolehan 16 medali emas, sebagaimana digaungkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pengamat olahraga, Erwin Fitriansyah, mengapresiasi prestasi Indonesia di ajang Asian Games 18 tahun 2018 ini. Ia menjelaskan bahwa pencapaian saat ini dapat dianggap sebagai kemajuan Indonesia dalam bidang olahraga, mengingat empat tahun lalu di Asian Games 17 tahun 2014 di Incheon, Korea Selatan, Indonesia hanya berada di peringkat 17.

Menurut Erwin, prestasi gemilang Indonesia di Asian Games 18 tahun 2018 itu tak bisa dilepaskan dari kepiawaian Indonesia dalam memaksimalkan cabor baru yang diajukan Indonesia.

“Kita sebagai tuan rumah, punya privilege untuk mengajukan cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Games 18. Kita memanfaatkan privilege itu dengan maksimal. Kita mengajukan cabang olahraga yang kira-kira kita kuat. Nyatanya, kita memenuhi target, terutama pencak silat,” kata Erwin saat dihubungi Tengok.id, Sabtu (1/9/2018).

Baca: Usai Asian Games, Pemerintah Diminta Fokus Penanganan Kemacetan

Erwin tak sekadar bicara. Dari 31 medali emas, 19 di antaranya berasal dari cabor non-olimpiade, dan 16 dari 19 medali emas itu dipetik Indonesia dari cabor non-olimpiade yang baru dipertandingkan di Asian Games 2018.

Berikut tabel perolehan medali emas Indonesia di Asian Games 18 tahun 2018 berdasarkan cabor olimpiade dan non-olimpiade:

A. Cabor Non-Olimpiade (Cabor Baru di Asian Games 2018)

No. Cabor Jumlah Medali Emas
1. Pencak Silat 14
2. Paralayang 2
3. Jetski 1
Jumlah Keseluruhan 17

B. Cabor Non-Olimpiade

No. Cabor Jumlah Medali Emas
1. Wushu 1
2. Sepak Takraw 1
Jumlah Keseluruhan 2

C. Cabor Olimpiade (Tokyo 2020)

No. Cabor Jumlah Medali Emas
1. Bulutangkis 2
2. Taekwondo 1
3. Karate 1
4. Dayung 1
5. Balap Sepeda 2
6. Angkat Besi 1
7. Tenis 1
8. Panjat Tebing (cabor baru) 3
Jumlah Keseluruhan 12

Toh, di balik keberhasilan itu, Erwin justru mengaku prihatin. Cabang-cabang olahraga olimpiade, katanya, tak menunjukkan prestasi menggembirakan.

“Tapi yang harus diingat lagi apakah di cabang-cabang yang memang olympic kita dapat? Cabang olympic itu kan atletik, renang, menembak, panahan, senam. Itu yang harus diingat. Kalau dibilang meningkat ya iya, tapi kalau ditelaah lagi apakah cabang olympic kita yang mendapat medali banyak? Gak usah nyumbang banyak, apakah cabor olympic memenuhi target? Misalnya atletik. Kita 4 tahun yang lalu dapet emas, tapi sekarang justru nggak,” kata Erwin.

Berangkat dari alasan tersebut, Erwin mengatakan bahwa setelah Asian Games 2018 selesai, Indonesia harus segera berbenah, terutama di cabang olahraga olympic.

“Setelah ini kita harus lebih fokus ke cabang olympic, karena cabang olympic tidak mungkin hilang di Asian games. Sebaliknya, cabor non-olympic seperti Pencak Silat, bisa jadi 4 tahun lagi tidak dipertandingkan di Asian Games. Paralayang juga belum tentu. Jika di Asian Games 19 tahun 2002 Pencak Silat tidak dipertandingkan, kita berpotensi kehilangan 14 medali emas loh. Begitu juga dengan paralayang, jetski, kurang berapa itu?” tutup Erwin.***

Editor: Ristinanto

Bagaimana menurut pembaca?