Tengok.id – Gelaran Asian Games ke-18 yang akan berlangsung serentak di Jakarta dan Palembang, 18 Agustus – 2 September 2018, diwarnai dengan masuknya sejumlah cabang olahraga (cabor) baru.

Antara lain rollersport (skateboarding dan rollerskate), jetski, basket 3×3, paralayang, panjat tebing, kurash (seni bela diri Kazakstan), dan sambo (seni bela diri Rusia). Yang menarik, Asian Games ke-18 ini juga akan disemarakkan dengan electronics sports (e-sports).

Sebagai cabang baru, e-sports akan tampil dengan status eksibisi. Status eksibisi tetap akan membuat atlet di cabang ini mendapatkan medali. Namun perolehan medali tersebut tidak akan masuk dalam penghitungan medali yang didapat kontingen.

Banyak pihak mempertanyakan masuknya e-sports dalam Asian Games. Sebab e-sports dinilai bukan sebuah olahraga, sehingga para pemainnya pun belum tepat menyandang status sebagai atlet. Toh, e-sports masuk dan dipertandingkan di Asian Games ke-18.

Meski termasuk cabang baru dan mengundang kontroversi, e-sports justru merupakan cabang yang dianggap paling berpotensi terjadinya kasus penggunaan doping. Maklum, e-sports merupakan cabang yang sangat membutuhkan daya konsentrasi dan stamina prima; duduk berjam-jam di depan layar komputer dan harus benar-benar konsentrasi dalam menghadapi lawan.

Daya konsentrasi dan stamina prima itu bisa diperoleh dari zat-zat yang bisa menstimulus kerja otak dan terkategorikan sebagai doping. Singkatnya, e-sports begitu lekat dengan doping.

Ihwal kebiasaan doping dalam e-sports ini diakui sejumlah pemain (gamer) profesional kondang di Eropa. Salah seorang di antaranya adalah Kory Friesen, gamer profesional di nomor Counter-Strike Global Offensive yang beberapa kali menjuarai kompetisi e-sports tingkat dunia.

Kepada The Guardian, Kory Friesen mengaku bahwa ia sudah terbiasa mengonsumsi Adderall sebagai doping sejak tahun 2015. Menurut Kory, tak hanya dirinya, para pemain papan atas di Eropa juga sudah biasa mengonsumsi Adderall sebagai doping. Namun, gara-gara menggunakan doping itu, Kory Friesen kini dilarang berkompetisi selepas kejuaraan The Electronic Sports League (ESL) One di Polandia, tahun 2018 ini.

Baca: Pengetahuan Atlet Soal Doping Minim

Adderall adalah obat berbasis amphetamine (zat kimia yang digunakan dalam pil ekstasi) yang menjadi stimulator kognitif. Pemakainya akan menjadi lebih waspada, fokus, dan bisa berkonsentrasi penuh selama berjam-jam.

Pengakuan Friesen itu memicu ESL di Eropa untuk menerapkan program anti-doping komprehensif guna menjaring para atlet yang curang dengan menggunakan doping sebagai peningkat performa.

ESL yang berdiri di 1997 memiliki lima juta anggota dan satu juta tim di seluruh dunia. Sebagai organisasi e-sports tertua dan terbesar, langkah anti-doping mereka menjadi acuan di dunia e-sports.

“Doping peningkat performa akan mengancam industri ini secara global. Kami akan melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menjaga integritas e-sports,” kata juru bicara ESL, Anna Rozwandowicz.

ESL kini telah memiliki sejumlah aturan yang disusun bersama Badan Anti-Doping Dunia (World Anti-Doping Agency/WADA) untuk mengantisipasi penggunaan doping e-sports di Amerika Serikat, Australia, dan Asia.

Sebagai informasi, ada enam nomor e-sports yang diputuskan Dewan Olimpiade Asia (OCA) untuk dipertandingkan di Asian Games 2018. Yaitu Arena of Valor, Pro Evolution Soccer, League of Legends, Clash Royale, Heartstone, dan Starcraft 2.

Pertandingan e-sports akan digelar di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada 26 Agustus hingga 1 September 2018 dengan harga tiket masuk berkisar dari Rp30 ribu hingga Rp100 ribu. Kontingen e-sports Indonesia yang berasal dari Asosiasi E-Sport Indonesia (IeSPA) sudah mendaftarkan satu pelatih dan 16 atletnya ke INASGOC.***

Bagaimana menurut pembaca?