Internasional, Tengokberita.com – Aktivis dan relawan Mer-C Nur Fitri Taher menerima penghargaan dari International Mount of Olive Peace Awards di Istanbul, Turki, Senin (7/5/2018). Penghargaan langsung diserahkan oleh Istri Presiden Turki Emine Erdogan.

Nur Fitri menjadi satu-satunya aktivis dari Indonesia yang menerima penghargaan tersebut bersama dengan empat aktifis lainnya dari Palestina, Swedia, USA dan UK.

Dalam sambutanya di hadapan Presiden dan pejabat pemerintahan Turki, Nur Fitri mengatakan bahwa sebenarnya dia merasa tidak layak menerima penghargaan tersebut.

Saya sadar benar bahwa sebenarnya saya tidak layak menerima penghargaan ini, jadi saya akan mendedikasikan pengharagaan ini untuk saudara-saudara yang gugur di Mavi Marmara dan untuk seluruh syuhada yang gugur ketika mereka membela palestina,” ujarnya.

Nur Fitri saat memberi sambutan usai menerima penghargaan di Istanbul, Turki, Senin (7/5/2018). (Foto: istimewa)

Pemimpin relawan Mer-C saat misi Mavi Marmara ini juga mengucapkan terima kasih kepada semua orang terhadap kepeduliannya terhadap Palestina.

Saya ingin berterima kasih kepada Anda semua dan kepada semua orang yang memiliki kepedulian terhadap Pelestina. Tapi mungkin kita harus memiliki kepedulian yang lebih lagi karena mungkin dengan begitu Allah akan menurunkan bantuanNya kepada kita. Dan mungkin ketika saat itu tiba, Palestina akan merdeka,” ujarnya.

Penghargaan tahunan yang baru pertama kali diadakan ini memberikan penghargaan kepada para penggiat Palestina dari berbagai negara di dunia. Selain Nur Fitri, lembaga internasional tersebut juga memberikan penghargaan kepada orang tua dari Muhammad Abu Khader, remaja Palestina yang dibakar oleh pemukim ilegal Yahudi pada 2014.

Selain itu penghargaan juga diberikan kepada orang tua Rachel Corrie, aktivis asal Amerika Serikat yang tewas dilindas sebuah buldoser milik Israel ketika hendak menghancurkan rumah warga Palestina.

Rachel datang ke Gaza sebagai warga negara dunia dalam rangka melawan ketidakadilan bagi siapapun didunia ini,” kata Cindy Corrie, ibu Rachel Corrie dalam sambutannya.

Selain ketiga wanita tersebut, seorang aktivis asal Swedia Benjamin Ladraa turut pula menerima penghargaan atas kepeduliannya terhadap Palestina. Ladraa berjalan sejauh 5.000 km dari Swedia menuju ke Al Quds untuk mengampanyekan kepedulianya terhadap Palestina.

Penghargaan juga diberikan kepada syahid Naji Ali, aktitif – kartunis yang terkenal dengan karakter Hanzalah.

Wanita Hebat
Bagi Geisz Chalifah, Nurfitri Taher adalah wanita hebat. Geisz biasa memanggilnya Upi. “Dia adalah Ketua bidang kewanitaan Yayasan Rahmatan Lil Alamin sekaligus Ketua rombongan MER-C,” kata Geisz, budayawan.

Geisz dan Upi

Geisz menemani Upi ketika wanita itu hendak berangkat ke Gaza dengan menaiki kapal Mavi Marmara. Sebelum berangkat, Upi sempat berpesan kepada Geisz. “Tolong bila Upi Syahid, mohon harta yang ada diberikan 50 % kepada anak anakku, 25 % untuk perjuangan palestina, dan 25 % untuk umat Islam di Indonesia,” kata Upi kala itu sebagaimana ditirukan kembali oleh Geisz.

Ketika kapal itu akhirnya gagal menembus Gaza, Upi ditawan tentara Israel. Beberapa temannya syahid di depan matanya, tertembus peluru tentara Zionis. Tangannya diborgol dan dia menjadi tawanan. Di hadapan tentara Israel Upi tidak menunduk tidak pula menangis melainkan bernyanyi menyatakan kepada mereka : “Kami Tidak Takut Pada Kalian!”

Saya bersama teman-teman di MER-C terus memantau situasi dan setelah dilepas oleh Israel, melalui Yahoo Messenger, kami bercakap-cakap dan meminta padanya agar jangan menangis ketika diwawancara oleh media TV karena seringkali media TV menjebak untuk membangkitkan rasa haru para pemirsa mirip sinetron kacangan yang seringkali diumbar ke publik. Pesan MER-C kepada anggotanya jelas : Jangan Menunjukkan Air Mata Pada Zionis,” kata Geisz.

Malam hari Geisz berhasil menghubungi Upi melalui YM. Kala itu Upi mengatakan : “Mohon doa agar niat Upi terus lurus….Agar hikmah ditangkapnya kami lebih besar daripada tak sampainya misi kami……Agar para syuhada sedang bahagia di alamnya.”

Pada Senin (7/5/2018), Geisz mendapat info Nurfitri Taher (Upi) mendapat penghargaan dari Istri Presiden Turkey Erdogan. “Tentu saja Upi jauh dari kesan tengil, seperti emak yang mendramatisir anaknya di CFD, tidak pula seperti perempuan pengurus partai yang katanya partai anak muda yang rajin menampilkan kedunguannya sekaligus ketengilannya di publik.”

Upi perempuan berani sekaligus juga lucu. Tak ada kesan menampakkan bahwa dirinya pejuang. Ia selalu sederhana dalam tampilan tapi sangat fokus bila menggarap isu – isu Palestina. (has)

Bagaimana menurut pembaca?