Tengok.id – Sepuluh tahun lalu (2008), penulis pertama kali ke Malinau menggunakan pesawat Susy Air dari Tarakan. Satu-satunya pesawat udara komersial yang melayani jalur Malinau-Tarakan. Rute penerbangan ini mendapat subsidi operasional dari Pemkab. Malinau. Kondisi kantor bandara masih cukup sederhana sekali dengan layanan minimalis. Jarkanya sekitar 2 kilometer dari pusat kota. Jangan membayangkan adanya ruang nyaman berpendingin seperti sekarang dilengkapi dengan kelengkapan layaknya bandara dan petugas berseragam. Bagasi tidak prrlu diperiksa dan ambil sendiri.

Kebetulan Kabupaten Malianu juga masih baru terbentuk kala itu. Setiba di bandara untuk melanjutkan perjalanan menuju penginapan hanya tersedia angkot bertarif Rp 10 ribu per orang. Belum ada taksi bandara atau angkutan umum yang memadai. Lalu lintas di jalan masih cukup lengang. Kehidupan masyarakat tidak lebih dari jam 20.00.

Bandara Malinau

Sepuluh tahun berikutnya (2018) kondisi sudah berubah. Kehidupan masyarakat hingga jam 24.00, bahkan lebih. Para pendatang yang sebagian besar berasal dari Jawa dan Sulawesi turut mewarnai kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya. Profesi kerja para pendatang ada yang menjadi PNS dan rata-rata berwirasusaha, seperti membuka usaha rumah makan, bengkel kendaraan, pertokoan jual kebutuhan sehari-hari, jasa transportasi.

Sekarang layanan Bandara Kolonel Robet Atty Bessing sudah jauh lebih baik. Landas pacu (runway) sudah diperpanjang berukuran 1.600 meter x 30 meter. Sudah dapat didarati pesawat udara jenis ATR (kapasitas 72 tempat duduk). Layanan penerbangan tidak hanya dari Tarakan dan Nunukan, sudah ada rute Malinau-Balikpapan setiap hari oleh maskapai penerbangan Wings Air mulai 22 Februari 2018 dan Sriwijaya Air sejak 9 Agustus 2018. Demikian pula dari Tarakan setiap hari masih tetap dilayani Maskapai Susy Air dan ditambah setiap tanggal ganjil ada penerbangan oleh Express Air berkapasitas 34 tempat duduk.

Penerbangan rutin ke Long Apung, Long Bawan, atau ke kecamatan-kecamatan di wilayah Kab. Malinau masih tetap dilakukan selama jalan darat belum terhubung.

Kantor pengelola bandara juga sudah dibangun yang lebih luas dan lebih bagus oleh Pemkab. Malinau. Sudah cukup memadai untuk melayani penerbangan ke depan. Standar pelayanan di bandara sudah mengikuti aturan untuk sisi darat (land side) dan sisi udara (air side). Lapangan parkir kendaraan pengantar dan penjemput cukup luas. Akses ke jalan raya cukup dekat. Ruang tunggu yang lapang cukup untuk bergantian setiap penerbangan.

Lintasan Bandara Malinau

Dari bandara ini juga masih melayani penerbangan ke semua kecamatan di Mainau yang memiliki lapangan terbang (air strip). Layanan udara masih dieprlukan selama akses jalan raya belum bisa menjangkau. Akses jalur sungai tetap digunakan. Namun untuk mempercepat mobilitas lebih memilih jalur udara, terutama bil ada warga yang sakit memerlukan bantuan segera.

Sebagian wilayah Kab. Malinau dilewati jalan pararel perbatasan yang sedang dikerjakan oleh Kemen. PUPR. Antara Malinau dengan Tanjung Selor (Ibukota Provinsi Kalimantan Urata) sudah terhubung jalan nasional. Sudah dilayani angkutan bus perintis dan angkutan travel yang sudah beroperasi sebelum ada bus perintis beroperasi 2016.

Di Kota Malinau sebagai daerah perbatasan, memiliki kekhasan jalan raya yang bisa sewaktu-waktu digunakan sebagai landas pacu pesawat terbang. Jalan panjang menuju Komplek Kantor Pusat Pemerintah Kabupaten Malinau. Jalan ini sejak dibangun hingga sekarang, selain panjangnya lebih dari 2.000 meter juga cukup lebar. Tersedia enam lajur, akan tetapi tidak dibangun median jalan permanen. Median jalan cukup diberikan pot bunga di sepanjang jalan. Jika dalam kondisi darurat, pot bunga akan mudah disingkirkan dan jalan akan berubah fungsi untuk pendaratan pesawat.

Jalan lebar tanpa media menuju Komplek Perkantoran Pemkab. Malinau yang disiapkan untuk menjadi landas pacu (runway) pada kondisi darurat

Setiap tahun ada Pesta yang diselenggarakan Pemkab. Malinau. Keberadaan bandara ini sangat menunjang untuk meningkatkan perekonomian daerah, terutama menarik pelancong lebih banyak lagi. Malinau di perbatasan cukup kaya akan budaya lokal dan alam yang masih hijau. Sebagian besar wilayahnya merupakan Kawasan Hutan Lindung Nasional. Bandara RA Bessing sudah dapat menjadi pintu gerbang kemajuan perekonomian di Kaltara. Bandara ini pintu masuk pelancong lebih banyak lagi ke Kaltara melalui Malinau. Selain itu, Bandara RA Bessing dapat juga berfungsi sebagai alat pertahanan dan keamanan negara di perbatasan.

Saat ini Direktorat Jenderal Perkeretaapian sedang mengevaluasi penyusunan Rencana Induk Perkeretaapian. Belajar dengan pembangunan bandara udara di Kawasan Perbatasan di Kalimatan, seyogyanya ada rencana jaringan kereta di sepanjang kawan perbatasan. Jalan strategis pararel perbatasan sudah mulai selesai terbangun. Kawasan perbatasan bisa dilengkapi dengan jaringa kereta pula.***

Bagaimana menurut pembaca?