Tengok.id – Asian Games adalah pesta olahraga bangsa-bangsa di Asia yang akan melibatkan belasan ribu orang dari puluhan negara di Asia. Indonesia selaku tuan rumah harus bisa memberikan jaminan keamanan.

Lantas, bagaimana bentuk pengamanan yang dilakukan dan berapa jumlah personel keamanan yang dikerahkan dalam helatan Asian Games ke-18 tahun 2018?

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol M Iqbal menjelaskan, untuk mengamankan jalannya Asian Games ke-18 tahun 2018, sebanyak 40.000 personel gabungan TNI dan Polri dilibatkan.

Sejak jauh hari, Polri sudah melakukan perencanaan pengamanan; mulai dari kedatangan atlet di bandara, pengamanan di Wisma Atlet, pengamanan arena cabang olahraga, dan tempat para atlet serta official menginap. Selain itu, ada unsur-unsur di bidang rekayasa lalu lintas dari venue kembali ke hotel atau tempat penginapan Wisma Atlet.

Untuk pengamanan atlet, ada beberapa negara yang akan dilakukan pengamanan lebih, yakni Myanmar dan China. Hal tersebut dilakukan mengingat saat ini ada sejumlah isu yang dapat membuat gesekan di masyarakat.

“Tentunya kami selektif, seperti Myanmar yang harus diantisipasi isu Rohingya. Kemudian China, yang atletnya paling banyak. Saya kira seperti itu,” kata Brigjen Pol Iqbal kepada Tengok.id di Jakarta, Jumat (3/8/2018).

Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya ini menjelaskan, ada pula upaya pemetaan kepada kelompok-kelompok komunitas tertentu yang dilakukan oleh Polri. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya tindakan kriminal.

Baca: Kepsek SMPN 233: “Kenapa Sekolah Kami Diliburkan?”

Bahkan, sebelum Asian Games digelar, Polri sudah menggelar Operasi Cipta Kondisi di sejumlah wilayah di Indonesia. Hasilnya polisi menangkap hampir 2.000 orang dan menahan 700 di antaranya karena melakukan berbagai aksi kejahatan jalanan (street crime).

Pengamanan dan penangkapan terhadap para pelaku kejahatan jalanan semacam itu, dilakukan oleh Polri bekerja sama dengan TNI. TNI membantu dengan mengerahkan personel di Komando Daerah Militer (Kodam).

Selain itu, Polri juga telah memetakan jaringan kriminal jalanan di Jakarta, Sumatra Selatan, Banten, dan Jawa Barat. “Kita sudah melakukan antisipasi dengan melakukan penangkapan terhadap para pelaku kejahatan jalanan,” tutur Iqbal.

Iqbal menjelaskan, tidak hanya kejahatan jalanan, Polri juga memfokuskan pengamanan dari aksi terorisme, kebakaran hutan, dan kemacetan lalu lintas. Untuk aksi teroris, sejak kejadian Bom Surabaya, Polisi telah menangkap sekitar 242 orang.

Tak hanya itu, sejak Rabu (1/8/2018) Polri menggelar Operasi Pamong Raga 2018. Dalam operasi tersebut Polri mendirikan pos di sejumlah titik rawan di wilayah Indonesia.

Pos itu akan diisi oleh ribuan anggota Polisi dan TNI. Pos gabungan itu dibuat untuk menangani semua hal yang bersifat gawat darurat, seperti kesehatan, kebakaran, SAR, dan bencana alam.

Tak hanya itu, di sekitar venue, Wisma Atlet daerah di Jakarta dan Palembang akan dipasang ribuan kamera pengawas (CCTV). “Kita sudah melakukan antisipasi agar semua kegiatan berjalan lancar,” Brigjen Pol Iqbal menambahkan.***

Editor: Hasanuddin

Bagaimana menurut pembaca?